Welcome to blog Angga Ardinata

Kamis, 26 Juli 2012

Kata-kata untuk nembak cewek

Andai yang kau tahu bila menjadi aku sejuta rasa di hati. Lama telah ku pendam tapi akan ku coba mengatakan.

Ku ingin kau menjadi milikku entah bagaimana caranya. Tataplah mataku untuk memintamu.

Ku ingin jalani bersamamu coba dengan sepenuh hati ku ingin jujur apa adanya, dari hati.

Kini yang kau tahu aku menginginkanmu tapi ku takkan ku paksakan dan ku pastikan kau belahan bila kau milikku.

Kamis, 19 Juli 2012

TUJUAN HIDUP DI MUKA BUMI

Jarang orang merumuskan tujuan hidupnya. Merumuskan apa yang dicari dalam hidupnya, apakah hidup­nya untuk makan atau makan untuk hidup. Banyak orang sekedar menjalani hidupnya, mengikuti arus kehidupan, terkadang berani melawan arus, dan menyesuaikan diri, tetapi apa yang dicari dalam melawan arus, menyesuaikan diri dengan arus atau dalam pasrah total kepada arus, tidak pernah dirumuskan secara serius. Ada orang yang sepanjang hidupnya bekerja keras mengumpulkan uang, tetapi untuk apa uang itu dan mau dibuat apa… baru dipikirkan setelah uang terkumpul, bukan dirumuskan ketika memutuskan untuk mengumpulkannya. Ada yang ketika mengeluarkan uang tidak sempat merumuskan tujuannya, sehingga hartanya terhambur-hambur tanpa arti. Ini adalah model orang yang hidup tidak punya konsep hidup.

Makna tentang tujuan hidup sampai kapan pun masih tetap penting untuk direnungkan. Bagaimanapun seorang Muslim mesti sadar bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara tidak kekal bahkan terlalu amat singkat. Kita cuma diberikan kesempatan yang sangat sebentar, bagaikan seorang musafir yang berhenti di sebuah oase, setelah istirahat sebentar dia mempersiapkan perbekalan lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir…alam keabadian.

Rumusan tujuan hidup yang didasari pada nilai ajaran agama menempati posisi sentral, yakni orang yang hormat dan tunduk kepada nilai-nilai agama yang diyakininya, melalui pemahaman yang benar dan matang terhadap ajaran agama.

Menurut ajaran Islam, tujuan hidup manusia ialah untuk menggapai ridha Allah.

Allah berfirman,

“Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (Al-Baqarah [2]: ayat 207)

Ridha artinya senang. Jadi segala pertimbangan tentang tujuan hidup seorang Muslim, berujung kepada apakah yang kita lakukan dan apa yang kita gapai itu sesuatu yang disukai atau diridhai Allah SWT atau tidak. Jika kita berusaha memperoleh ridha-Nya, maka apapun yang diberikan Allah kepada kita, kita akan menerimanya dengan ridha (senang) pula.

Kita bisa mengetahui sesuatu itu diridhai atau tidak oleh Allah. Tolok ukur pertama adalah syariat atau aturan yang ditetapkan dalam agama kita, sesuatu yang diharamkan atau dilarang oleh Allah pasti tidak diridhai dan bila kita melakukannya atau melanggarnya kita akan mendapat dosa; dan sesuatu yang halal atau diperintahkan agama pasti diridhai yang apabila kita mengerjakannya kita akan mendapat pahala. Selanjutnya nilai-nilai akhlak akan menjadi tolok ukur tentang kesempurnaan, misalnya memberi kepada orang yang meminta-minta dijalanan karena kebutuhan adalah sesuatu yang diridhai-Nya; tidak memberi tidak berdosa tetapi kurang disukai oleh Allah SWT.

Indikator ridha Allah juga dapat dilihat dari dimensi horizontal.

Nabi bersabda,

“Bahwa ridha Allah ada bersama ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada bersama murka kedua orang tua”.

Semangat untuk mencari ridha Allah sudah barang tentu hanya dimiliki orang-orang yang beriman, sedangkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal agama, maka boleh jadi pandangan hidupnya dan prilakunya sesat, tetapi mungkin juga pandangan hidupnya mendekati pandangan hidup orang yang beragama…, karena toh setiap manusia memiliki akal yang bisa berfikir logis dan hati yang di dalamnya ada nilai kebaikan.

Ma’a syiraa Muslimin wal muslimat rahimmakumullah,

Sebaik apapun manusia… selama dia kafir…maka amalan-amalan mereka tidak diterima dan tidak dinilai oleh Allah, sia-sia belaka akibat kekafiran mereka, bagai debu yang berterbangan.

Allah berfirman,

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya (An-Nur[24]: ayat 39)

Metode untuk mengetahui ridla Allah SWT juga diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan cara bertanya kepada hati sendiri. Orang bisa berdusta, berbohong dan mengelabui orang lain, tetapi ia tidak dapat melakukannya kepada hati sendiri. Hanya saja hati orang berbeda-beda. Hati yang gelap, hati yang kosong, dan hati yang mati, sulit dan bahkan tidak bisa ditanya. Hati juga kadang-kadang tidak konsisten, oleh karena itu…pertanyaan yang paling tepat kepada hati nurani, Nurani berasal arti kata nur, cahaya. Orang yang nuraninya hidup maka ia selalu sambung dengan ridha Tuhan. Problem hati nurani adalah cahaya nurani sering tertutup oleh keserakahan, egoisme, dan kemaksiatan.

Menurut ajaran Islam, tugas pokok hidup manusia, sepanjang hidupnya hanya satu tugas, yaitu beribadah kepada Allah, Sang Pencipta. Allah berfirman dalam kitab suci al Qur’an yang berbunyi ” (al_Drariat [51]: ayat 56) yang artinya

“Tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”.

Menjalankan ibadah bukanlah tujuan hidup, tetapi merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh mahluk Allah sepanjang hidupnya. Ibadah mengandung arti untuk menyadari dirinya kecil tak berarti, meyakini kekuasaan Allah Yang Maha Besar, Sang Pencipta, dan disiplin dalam kepatuhan kepada-Nya. Oleh karena itu orang yang menjalankan ibadah mestilah bersikap rendah hati, tidak sombong, menghilangkan egoisme dan Istiqamah untuk terus berupaya agar selalu dalam ridla dan bimbingan-Nya. Itulah etos ibadah. Ibadah ada yang bersifat murni, yakni ibadah yang hanya memiliki satu dimensi, yaitu dimensi vertikal, patuh tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa, seperti shalat dan puasa. Ibadah juga terbagi menjadi dua klasifikasi; ibadah wajib dan ibadah sunnah. Ibadah wajib adalah yang bersifat baku yang ketentuannya langsung dari wahyu atau dari Nabi Muhammad SAW ,yaitu perintah shalat 5 waktu, Puasa, Zakat (zakat fitrah, zakat mal) bagi yang telah memenuhi syaratnya, dan ibadah haji bagi yang mampu.

sedangkan ibadah sunnah adalah semua perbuatan yang baik, dikerjakan dengan niat baik dan dilakukan dengan cara yang baik pula.

Manusia memiliki dua peran utama di dunia ini:

pertama sebagai hamba Allah, dan peran kedua sebagai khalifah (Wakil) Allah di muka bumi. Sebagai hamba Allah manusia adalah kecil dan tidak memiliki kekuasaan, oleh karena itu tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya.

kedua, sebagai khalifah di Bumi, manusia diberi fungsi, peran yang sangat besar, karena Allah Yang Maha Besar maka manusia sebagai wakil Allah di muka bumi memiliki tanggungjawab dan otoritas yang sangat besar. Sebagai khalifah manusia diberi tugas untuk mengelola alam semesta ini untuk kesejahteraan manusia Oleh karenanya manusia dituntut beramal shalih, menghindari dosa, menyuruh berbuat baik, melarang berbuat mungkar, jujur dan menghiasi diri dengan sikap yang dianjurkan oleh agama Islam.

Setiap manusia yang lahir di dunia ini sesuai kodratnya tidak ingin hidupnya menderita, baik berupa penderitaan lahir maupun matin. Kita manusia sebagai makhluk Allah SWT diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup didunia ini hanya sekali, oleh karena itu didalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini, apa-apa yang kita kerjakan dan usahakan harus ada manfaatnya bagi orang lain, minimal bermanfaat bagi lingkungan terkecil dalam keluarga, lebih luas lagi bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kita dan kalau memungkinkan bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Didalam Islam sudah jelas digambarkan bahwa kehidupan ini tidak hanya di dunia ini saja, tapi ada kehidupan yang jauh lebih penting yaitu kehidupan akhirat yang amat panjang tanpa batas, kehidupan yang hakiki, yang abadi, selamanya. Agar hidup kita penuh makna dan bermanfaat bagi orang banyak, maka kita harus punya “mimpi” yang kuat agar tercapai apa yang kita inginkan dan kita cita-citakan tersebut, yaitu bahagia di dunia dan di akhirat, seperti do’a yang sering kita panjatkan kehadirat Allah SWT:

Dan di antara mereka ada orang yang bendo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (Al-Baqarah [2]: ayat 201)

Coba renungkan dalam lingkungan kerja kita sehari-hari, apapun jenis perusahaan dimana kita bekerja…. Masing-masing perusahaan mesti punya visi dalam mendirikan perusahaan tersebut, ada yang punya visi (cita-cita/keinginan):

* Menjadi Perusahaan yang unggul tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Asia
* Menjadi Perusahaan yang mempunyai pelanggan terbanyak di Indonesia
* Menjadi Perusahaan yang meraih untung tertinggi di Indonesia
* Menjadi perusahaan yang 100% komponennya buatan dalam negeri, dll

Dalam scope terkecil dalam keluarga yang Islami, kita juga harus punya cita-cita / keinginan yang kuat agar kita dan keluarga kita bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Inilah yang benar-benar kita inginkan, kita rindukan, kita impikan dengan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraihnya.

Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim [66]: ayat 6)

Ayat tersebut jelas sekali bahwa Allah SWT menyuruh kepada segenap orang-orang yang beriman agar dijauhkan diri kita dan keluarga kita dari sentuhan api Neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu. Bahan bakar manusia disini adalah manusia-manusia yang kafir, manusia-manusia yang munafik maupun yang musrik. Mereka sudah hanyut dengan tipu daya syaitan-syaitan yang memang pekerjaannya menjerumuskan manusia sebanyak-banyaknya untuk memasuki Neraka yang abadi.

Kita hidup didunia ini sebagai muslim harus jelas apa yang kita impikan, yaitu ingin meraih “Surga” yang abadi. Untuk mencapai Surganya Allah ini tidak gratis, tidak secara kebetulan begitu saja…tapi harus penuh pengabdian, penuh perjuangan, penuh kesabaran sebagai manusia yang “bertaqwa”.

Coba kita urutkan dari belakang, apakah kita sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan rahmat Allah SWT sehingga bisa memasuki Surganya Allah SWT?

* Seseorang yang akan masuk Surga (alam ke-6), maka disaat memasuki alam pengadilan Allah nanti di Padang Mahsyar (alam ke-5), akan menerima catatan amal dengan tangan kanan.
* Seseorang yang akan menerima catatan dengan tangan kanan tersebut, maka yang bersangkutan akan mendapatkan kebahagiaan selama di alam khubur / alam Barzah (alam ke-4).
* Seseorang yang akan memperoleh kebahagiaan selama dialam khubur, maka disaat kematiannya, mati dalam keadaan “khusnul khatimah” (kematian yang baik).
* Seseorang akan memperoleh khusnul khatimah…maka tingkah laku sehari-hari dalam menjalankan hidup ini harus selalu dijalan Allah SWT, yaitu sebagai hamba Allah SWT yang beriman dan beramal shalih.
* Seseorang yang beriman dan beramal shalih selama hidup di dunia ini (alam ke-3), itulah hamba-hamba Allah yang bertaqwa.
* Hamba-hamba Allah yang bertaqwa adalah hamba-hamba Allah yang menjalankan Islam secara kaffah (secara menyeluruh), yaitu mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah SWT.
* Tanda-tanda hamba-hamba Allah SWT yang bertaqwa salah satunya adalah seseorang tersebut “khusuk” dalam setiap mendirikan shalat, baik shalat wajib maupun yang sunah.
* Salah satu tanda bahwa seseorang itu khusuk dalam shalatnya adalah orang tersebut banyak bersyukur, suka berinfaq dalam keadaan apapun, sabar setiap menghadapi masalah dan bisa menahan amarah.

Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa yang pertama-tama dihisab dihadapan Allah SWT di alam pengadilan nanti adalah “bagaimana shalat kita”:

* Jika shalat kita baik ( didirikan dengan khusuk dan tuma’ninah), maka baik pula seluruh amalan kita.
* Jika shalat kita jelek ( dikerjakan sekedar gugur kewajiban dan tergesa-gesa), maka jelek pula seluru amalan-amalan kita, apalagi bagi mereka yang meninggalkan shalat.

Disimpulkan bahwa barometer baik-tidaknya seseorang dimata Allah SWT adalah bagaimana shalat yang selama ini kita dirikan untuk menghadap-Nya, coba kita introspeksi diri kiita masing-masing… apakah shalat kita khusuk iman atau hanya khusuk munafik? Wallahu alam. Berbekal “khusuk Iman “ inilah yang bisa menghantarkan kita menuju Surganya Allah SWT.

::: CARA MELAWAN GODAAN SYETAN YANG TERKUTUK :::

Cara melawan setan bis kita lakuka dengan banyak cara salah satunya adalah dengan cara sholat, sedekah dan menjauhi perbuatan maksiat tapi bagaimanakah cara agr kita selalu bisa melawan dan memang melawan godaan setan. mari baca ulasan artikel berikut.
---------------------------------------------------------------------------------

Sungguh, kehidupan tidak lepas dari pertarungan melawan syetan. Pertarungan yang tiada henti sampai azal menjemput. Pertarungan yang berlaku bagi seluruh manusia tanpa pandang bulu. Hasilnya, manusia bisa menang atau kalah. Syetan pada dasarnya lemah, namun mereka memiliki peluang mengalahkan manusia, andai manusia lebih lemah daripada syetan. Sebaliknya, manusia bisa menang, manakala ia memiliki senjata yang sangat ampuh, yakni senjata IMAN.

Sangatlah berbahaya jika manusia tidak berbekal senjata IMAN. Karena kenyataannya, perang melawan syetan tidaklah berimbang. Syetan dari golongan jin bisa melihat manusia dan mereka saling bekerja sama (bergerombol) satu sama lain. Lalu, adakah kiat agar mampu memenangi pertarungan itu?. Kiatnya adalah sebagiai berikut:

1. Selalu Memperbaharui Iman kapan dan dimana saja berada.

Sungguh syetan bersemayam dalam hati manusia. Saat manusia berdzikir kepada Alloh, syetan akan berlari. Namun, saat manusia lupa berdzikir, syetan datang kembali membisiki ke jalan kejahatan. Nabi memerintahkan untuk senantiasa memperbaharui iman. Sahabat bertanya bagaimana caranya? Nabi menjawab, perbanyaklah membaca, memahami dan mengamalkan laa ilaha illalloh.

Rosul dan sahabat saja, yang paling benar imannya, selalu memperbaharui iman mereka dengan berbagai cara. Misalnya berzikir, pengajian, sholat jamaah, jihad, dan lain sebagainya. Tidak ada waktu yang tersisa, untuk memberikan kesempatan syetan menjegal kehidupan kita. Hadirkanlah selalu iman kapan dan dimana kita berada. Iman tidak hanya hadir di mesjid, namun ia hadir dimana-mana dalam aspek kehidupan.

Kita patut belajar dari kisah dialog antara pengembala kambing dengan Umar bin Khatab. Seorang pengembala sapi yang notabene memiliki tingkat intelektual yang relatif rendah, namun memiliki nuansa keimanan yang sangat tinggi. Saat pengembala dites keimananannya oleh sahabat Umar bin Khatam untuk dibeli kambingnya. Umar berkata, “Bilang saja kepada majikanmu, kambing dimakan serigala”. Pengembala pun berkata, “Dimana Alloh?”. Mendengar jawaban ini, Umar pun menangis.

2.Mentadabburi al-Quran

Kiat kedua untuk memenangi pertarungan dengan syetan adalah mentadabrui al-Quran. Dalam berbagai ayat al-Quran, dikatakan bahwa merenungi dan menghayati al-Quran akan berkorelasi dengan penambahan iman dan otomatis syetan akan menjauh. Ketika berinteraksi dengan al-Quran, maka iman akan bertambah. Dan inilah yang membedakan antara orang beriman dengan munafiq. Orang iman akan bertambah imannya, sementara orang munafik bertambah penyakit nifaqnya, sampai mati dalam keadaan kafir.

Attaubah 124.
“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafiq) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira”.

Jadi, merenungi al-Quran merupakan kebutuhan yang lebih besar dibandingkan makan dan minum. Saat tidak makan, bahaya ektrimnya adalah sakit. Sementara, kalau tidak tadabur al-Quran, konsekwensinya bukan hanya mati secara fisik namun juga hati nurani. Hati akan terkunci untuk menerima nasehat dan akhirnya mati dalam keadaan kafir. Qs Muhammad 24, “Maka tidaklah mereka menghayati al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

Dalam kondisi hidup yang penuh dengan fitnah, diharuskan kita selalu mentadaburi al-Quran. Karena inilah sumber energi yang akan hadir untuk mengalahkan syetan. Imam Ahmad bin Hambal, seorang sholeh, saat diminta bantuan merukyah seseorang yang kesurupan jin. Sang Imam tidak bersedia datang. Ia cukup mengirimkan sandalnya. Dan syetan pun langsung lari.

3. Komitmen untuk Selalu Berjamaah dengan Orang-orang yang Benar dan Jujur

Kiat ketiga adalah berkomitem untuk selalu berjamaah dengan orang benar dan jujur dalam aqidah, ibadah dan akhlaq. Sebagaimana tercantum dalam QS at-taubah 119. “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar”

Orang yang sendirian akan relatif mudah terperangkap tipu daya syetan dan tenggelam dalam perbuatan haram. Awalnya coba-coba namun akhirnya menjadi kebiasaan. Saat syetan menggoda manusia, sebagian mereka saling mendukung kelompok lainnya, sehingga kalau manusia sendirian, maka syetan akan mudah menjadi pemenang.

Dalam islam, apa saja yang berjamaah, memiliki pahala yang besar, misalnya sholat berjamaah, makan berjamaah, bepergian berjamaah, dan lain-lain. Berjamaah akan memberikan kekuatan dan sinergi satu sama lain. Seorang mukmin akan kuat karena disebabkan saudaranya. Jangan bingung memilih ‘label’ jamaah. Karena dasar pemilihan jamaah berdasar tuntutan al-Quran dan Hadits bukan atas dasar label, namun berdasarkan kriteria yakni mereka yang benar dan jujur.

4. Memahami Islam secara Mendalam

Kita keempat adalah memahami islam dengan mendalam. Tidak mungkin orang bodoh akan memiliki iman kuat sehingga memenangi pertempuran dengan syetan. Dalam sebuah hadits, “Barangsiapa dikehendaki Alloh baik, maka ia diberi pemahaman islam baik”. Syetan akan menyerah saat berhadapan orang yang berilmu (paham), karena seorang faqih akan mengetahui tipu daya syetan.

Ayat pertama al-quran yang turun menyeru tentang pemahaman (ilmu) bukan solan jihad, sholat, dan ibadah lainnya. Karena semua ibadah tidak akan diterima Alloh SWT kalau tidak didasari ilmu yang dimiliki. Jadi jangan mengikuti sesuatu yang kita tidak mengetahuinya.

Jangan pernah bosan memahami islam, sebagai modal melawan syetan yang tidak pernah berhenti menggoda manusia sampai qiamat. Perbanyak kajian yang didasari kesadaran diri bahwa pertarungan dengan syetan tidak akan pernah berhenti. Dan semoga kita dimudahkan mencintai ilmu al-Quran, Sunah dan bersama orang-orang yang sholeh.

Sabtu, 14 Juli 2012

Kriteria Memilih Calon Suami

1. Islam.
Ini adalah kriteria yang sangat penting bagi seorang Muslimah dalam memilih calon suami sebab dengan Islamlah satu-satunya jalan yang menjadikan kita selamat dunia dan akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “ … dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al Baqarah : 221)2. Berilmu dan Baik Akhlaknya.
Masa depan kehidupan suami-istri erat kaitannya dengan memilih suami, maka Islam memberi anjuran agar memilih akhlak yang baik, shalih, dan taat beragama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR. At Tirmidzi)

Diantara fitnah yang dimaksud diatas adalah akan merajalelanya keburukan semisal perzinahan. Karena saat sesuatu yang baik ditolak, maka pilihan berikutnya adalah yang buruk, oleh karena itu hendaklah para wanita memperjuangkannya jika telah yakin dengan pilihannya dan hendaklah para wali memudahkannya.

Islam memiliki pertimbangan dan ukuran tersendiri dengan meletakkannya pada dasar takwa dan akhlak serta tidak menjadikan kemiskinan sebagai celaan dan tidak menjadikan kekayaan sebagai pujian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orangorang yang layak (nikah) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur : 32)

Laki-laki yang memilki keistimewaan adalah laki-laki yang mempunyai ketakwaan dan keshalihan akhlak. Dia mengetahui hukum-hukum Allah tentang bagaimana memperlakukan istri, berbuat baik kepadanya, dan menjaga kehormatan dirinya serta agamanya, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjalankan kewajibannya secara sempurna di dalam membina keluarga dan menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai suami, mendidik anak-anak, menegakkan kemuliaan, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dengan tenaga dan nafkah.

Jika dia merasa ada kekurangan pada diri si istri yang dia tidak sukai, maka dia segera mengingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yaitu : Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Jangan membenci seorang Mukmin (lakilaki) pada Mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai.” (HR. Muslim)

Sehubungan dengan memilih calon suami untuk anak perempuan berdasarkan ketakwaannya, Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki : “Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”

Untuk dapat mengetahui agama dan akhlak calon suami, salah satunya mengamati kehidupan si calon suami sehari-hari dengan cara bertanya kepada orang-orang dekatnya, misalnya tetangga, sahabat, atau saudara dekatnya.

Demikianlah ajaran Islam dalam memilih calon pasangan hidup. Betapa sempurnanya Islam dalam menuntun umat disetiap langkah amalannya dengan tuntunan yang baik agar selamat dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Wallahu A’lam

Syukurnya seorang buta

Imam Bukhari (hadits no 3464) dan Muslim (hadits no 2964) meriwayatkan
dari Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahu alaihi wa salam pernah bercerita:

”Dahulu ada tiga orang Bani Israil yang masing-masing menderita suatu
penyakit. Orang pertama diserang penyakit kudis disekujur tubuhnya, orang
kedua tidak memiliki sehelai rambut pun di kepalanya (botak) dan orang
ketiga menderita cacat pada matanya sehingga tidak bisa melihat (buta).
Allah ingin menguji mereka dengan mengutus malaikat-Nya.

Malaikatpun mendatangi orang pertama seraya bertanya: ”Apa yang paling
anda inginkan?” Jawabnya: ”Warna dan kulit yang indah serta hilangnya
seluruh cacat di tubuhku yang membuat manusia menjauhiku.” Malaikat lalu
mengusapnya sehingga segala cacat di kulitnya hilang dan berganti warna
kulit yang indah.

Malaikat lalu bertanya lagi: ”Binatang (ternak) apa
yang anda inginkan?” Jawabnya: ”Unta…-atau sapi-” (perawi ragu).
Lantas diapun diberi unta yang sedang bunting dan malaikat berdoa:
”Semoga Allah memberkahimu dengan binatang itu.”.

Selanjutnya malaikat mendatangi orang yang botak dan bertanya: ”Apa yang
paling anda inginkan?” Jawabnya:”Rambut yang indah serta hilangnya
seluruh cacat yang membuat manusia lari dariku.” Malaikat lalu
mengusapnya sehingga cacat di kepalanya hilang dan diberi rambut yang
indah. Malaikat lalu bertanya lagi: ”Binatang apa yang paling anda
inginkan?” Jawabnya: ”Sapi”. Lantas diapun diberi seekor sapi bunting
dan malaikat berdoa: ”Semoga Allah memberkahimu dengan binatang itu.”

Kemudian malaikat mendatangi orang ketiga (si buta) dengan pertanyaan yang
sama: ”Apakah sesuatu yang paling anda inginkan?” Jawabnya:”Semoga
Allah menyembuhkan mataku hingga aku dapat melihat.” Malaikat lalu
mengusapnya sehingga dia dapatmelihat. Malaikat lalu bertanya lagi:
”Binatang apa yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Kambing”.Lantas
diapun diberi kambing bunting dan malaikat berdoa: ”Semoga Allah
memberkahimu dengan binatang itu.”

Waktu terus berputar, hari datang silih berganti, bulan terus berganti dan
tahun demi tahun pun berlalu. Ternak mereka makin berkembang biak dan
bertambah banyak, hingga masing-masing mempunyai sebuah lembah yang mereka
pergunakan untuk menggembala ternaknya masing-masing. Lembah unta, lembah
sapi, dan lembah kambing.

Tibalah saatnya bagi Allah untuk menguji mereka.
Malaikat kembali mendatangi orang pertama yang kini adalah orang kaya dan
tidak lagi berkudis. Malaikat tersebut datang dengan wujud dan keadaan
orang tersebut sebelum jadi kaya, yaitu seorang miskin lagi berkudis.
Kemudian mengatakan: ”Saya seorang miskin yang kehabisan bekal dalam
perjalanan, hari ini tiada yang dapat menolong diri saya kecuali Allah
kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah dikaruniai kulit yang
indah untuk berkenan kiranya memberikan sedikit harta demi kelangsungan
perjalanan saya”. Si kudis menjawab: ”Tidak, kebutuhanku yang lain masih
banyak.” Malaikat berkata: ”Sepertinya dulu saya pernah mengenal tuan.
Bukankah dahulunya tuan adalah seorang yang berkudis lalu Allah sembuhkan?
Dan dahulu tuan adalah seorang fakir lalu Allah cukupkan?” Dia menjawab:
”Harta ini adalah warisan nenek moyang sejak dulu”. Kata Malaikat:
”Jikalau engkau dusta maka Allah akan merubah tuan seperti keadaan
semula”.

Berikutnya malaikat mendatangi orang kedua. Malaikat menyerupai wujudnya
ketika masih miskin dan botak dahulu seraya mengajukan permintaan yang
serupa dengan orang kedua tadi. Jawaban yang diperoleh pun tak berbeda
dengan jawaban orang pertama. Akhirnya malaikat berkata: ”Jikalau engkau
dusta, maka Allah akan merubah tuan seperti semula”.

Malaikat kemudian mendatangi orang ketiga dengan rupa seorang buta yang
miskin seraya mengatakan: ”Saya orang miskin yang kehabisan bekal dalam
perjalanan. hari ini tiada yang dapat menolong diri saya kecuali Allah,
kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah disembuhkan oleh Allah
untuk berkenan kiranya memberi saya sedikit harta demi kelangsungan
perjalanan saya ini”. Jawab si buta: ”Dahulu aku adalah seorang buta,
kemudian Allah menyembuhkanku. Maka ambillahapa saja dan berapapun yang
anda mau dan tinggalkan yang anda tidak suka. Demi Allah, saya tidak
merasa keberatan bila anda mengambil sesuatu untuk Allah”. Malaikat
menjawab: ”Tahanlah hartamu, ambillah kembali. Sesungguhnya kalian sedang
diuji. Allah telah meridhoimu dan murka kepada saudaramu”.

Su Buta dengan ikhlas hati memberikan hartanya kepada malaikat tersebut
yang dalam pandangannya adalah seorang yang membutuhkan bantuan. Maka
Allah memberkahinya dan dia tetap memiliki hartanya. Berbeda halnya dengan
kedua rekannya terdahulu yang ternyata dia berubah menjadi seorang bakhil.
Setelah berubah menjadi orang kaya dan berharta, keduanya lupa akan
kewajibannya, yaitu bersyukur kepada Allah dan memberikan hak orang lain
yang juga membutuhkan uluran tangannya. Maka dikembalikanlah keadaan
mereka sebagaimana semula.

Syukurnya seorang buta

Imam Bukhari (hadits no 3464) dan Muslim (hadits no 2964) meriwayatkan
dari Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahu alaihi wa salam pernah bercerita:

”Dahulu ada tiga orang Bani Israil yang masing-masing menderita suatu
penyakit. Orang pertama diserang penyakit kudis disekujur tubuhnya, orang
kedua tidak memiliki sehelai rambut pun di kepalanya (botak) dan orang
ketiga menderita cacat pada matanya sehingga tidak bisa melihat (buta).
Allah ingin menguji mereka dengan mengutus malaikat-Nya.

Malaikatpun mendatangi orang pertama seraya bertanya: ”Apa yang paling
anda inginkan?” Jawabnya: ”Warna dan kulit yang indah serta hilangnya
seluruh cacat di tubuhku yang membuat manusia menjauhiku.” Malaikat lalu
mengusapnya sehingga segala cacat di kulitnya hilang dan berganti warna
kulit yang indah.

Malaikat lalu bertanya lagi: ”Binatang (ternak) apa
yang anda inginkan?” Jawabnya: ”Unta…-atau sapi-” (perawi ragu).
Lantas diapun diberi unta yang sedang bunting dan malaikat berdoa:
”Semoga Allah memberkahimu dengan binatang itu.”.

Selanjutnya malaikat mendatangi orang yang botak dan bertanya: ”Apa yang
paling anda inginkan?” Jawabnya:”Rambut yang indah serta hilangnya
seluruh cacat yang membuat manusia lari dariku.” Malaikat lalu
mengusapnya sehingga cacat di kepalanya hilang dan diberi rambut yang
indah. Malaikat lalu bertanya lagi: ”Binatang apa yang paling anda
inginkan?” Jawabnya: ”Sapi”. Lantas diapun diberi seekor sapi bunting
dan malaikat berdoa: ”Semoga Allah memberkahimu dengan binatang itu.”

Kemudian malaikat mendatangi orang ketiga (si buta) dengan pertanyaan yang
sama: ”Apakah sesuatu yang paling anda inginkan?” Jawabnya:”Semoga
Allah menyembuhkan mataku hingga aku dapat melihat.” Malaikat lalu
mengusapnya sehingga dia dapatmelihat. Malaikat lalu bertanya lagi:
”Binatang apa yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Kambing”.Lantas
diapun diberi kambing bunting dan malaikat berdoa: ”Semoga Allah
memberkahimu dengan binatang itu.”

Waktu terus berputar, hari datang silih berganti, bulan terus berganti dan
tahun demi tahun pun berlalu. Ternak mereka makin berkembang biak dan
bertambah banyak, hingga masing-masing mempunyai sebuah lembah yang mereka
pergunakan untuk menggembala ternaknya masing-masing. Lembah unta, lembah
sapi, dan lembah kambing.

Tibalah saatnya bagi Allah untuk menguji mereka.
Malaikat kembali mendatangi orang pertama yang kini adalah orang kaya dan
tidak lagi berkudis. Malaikat tersebut datang dengan wujud dan keadaan
orang tersebut sebelum jadi kaya, yaitu seorang miskin lagi berkudis.
Kemudian mengatakan: ”Saya seorang miskin yang kehabisan bekal dalam
perjalanan, hari ini tiada yang dapat menolong diri saya kecuali Allah
kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah dikaruniai kulit yang
indah untuk berkenan kiranya memberikan sedikit harta demi kelangsungan
perjalanan saya”. Si kudis menjawab: ”Tidak, kebutuhanku yang lain masih
banyak.” Malaikat berkata: ”Sepertinya dulu saya pernah mengenal tuan.
Bukankah dahulunya tuan adalah seorang yang berkudis lalu Allah sembuhkan?
Dan dahulu tuan adalah seorang fakir lalu Allah cukupkan?” Dia menjawab:
”Harta ini adalah warisan nenek moyang sejak dulu”. Kata Malaikat:
”Jikalau engkau dusta maka Allah akan merubah tuan seperti keadaan
semula”.

Berikutnya malaikat mendatangi orang kedua. Malaikat menyerupai wujudnya
ketika masih miskin dan botak dahulu seraya mengajukan permintaan yang
serupa dengan orang kedua tadi. Jawaban yang diperoleh pun tak berbeda
dengan jawaban orang pertama. Akhirnya malaikat berkata: ”Jikalau engkau
dusta, maka Allah akan merubah tuan seperti semula”.

Malaikat kemudian mendatangi orang ketiga dengan rupa seorang buta yang
miskin seraya mengatakan: ”Saya orang miskin yang kehabisan bekal dalam
perjalanan. hari ini tiada yang dapat menolong diri saya kecuali Allah,
kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah disembuhkan oleh Allah
untuk berkenan kiranya memberi saya sedikit harta demi kelangsungan
perjalanan saya ini”. Jawab si buta: ”Dahulu aku adalah seorang buta,
kemudian Allah menyembuhkanku. Maka ambillahapa saja dan berapapun yang
anda mau dan tinggalkan yang anda tidak suka. Demi Allah, saya tidak
merasa keberatan bila anda mengambil sesuatu untuk Allah”. Malaikat
menjawab: ”Tahanlah hartamu, ambillah kembali. Sesungguhnya kalian sedang
diuji. Allah telah meridhoimu dan murka kepada saudaramu”.

Su Buta dengan ikhlas hati memberikan hartanya kepada malaikat tersebut
yang dalam pandangannya adalah seorang yang membutuhkan bantuan. Maka
Allah memberkahinya dan dia tetap memiliki hartanya. Berbeda halnya dengan
kedua rekannya terdahulu yang ternyata dia berubah menjadi seorang bakhil.
Setelah berubah menjadi orang kaya dan berharta, keduanya lupa akan
kewajibannya, yaitu bersyukur kepada Allah dan memberikan hak orang lain
yang juga membutuhkan uluran tangannya. Maka dikembalikanlah keadaan
mereka sebagaimana semula.

3 Amalan pemuda hingga disebut ahli surga

Bismillahirrahmanirrahim……
Dgn menyebut nama Allah Yg Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Di salah satu sudut Masjid Nabawi terdapat satu ruang yang kini digunakan sebagai ruang khadimat.
Dahulu di tempat itulah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalaam senantiasa berkumpul bermusyawarah bersama para Shahabatnya radhiallaahu 'anhum.
Di sana Beliau SAW memberi taushiyyah, bermudzakarah, dan ta'lim.


Suatu ketika, saat Rasulullah SAW memberikan taushiyyahnya, tiba-tiba Beliau SAW berucap,
"Sebentar lagi akan datang seorang pemuda ahli surga."
Para Shahabat r.hum pun saling bertatapan, di sana ada Abu Bakar Ash Shiddiqradhiallaahu 'anhu, Utsman bin Affanradhiallaahu 'anhu, Umar bin Khattabradhiallaahu 'anhu, dan beberapa Shahabat lainnya.


Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang sederhana.
Pakaiannya sederhana, penampilannya sederhana, wajahnya masih basah dengan air wudhu.
Di tangan kirinya menenteng sandalnya yang sederhana pula.


Di kesempatan lain, ketika Rasulullah SAW berkumpul dengan para Shahabatnya, Beliau SAW pun berucap,
"Sebentar lagi kalian akan melihat seorang pemuda ahli surga."
Dan pemuda sederhana itu datang lagi, dengan keadaan yang masih tetap sama, sederhana.
Para Shahabat yang berkumpul pun terheran-heran, siapa dengan pemuda sederhana itu?


Bahkan hingga ketiga kalinya Rasulullah SAW mengatakan hal yang serupa.
Bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang ahli surga.
Seorang Shahabat, Mu'adz bin Jabbalradhiallaahu 'anhupun merasa penasaran.
Amalan apa yang dimilikinya sampai-sampai Rasul menyebutnya pemuda ahli surga?


Maka Mu'adzradhiallaahu'anhu berusaha mencari tahu. Ia berdalih sedang berselisih dengan ayahnya dan meminta izin untuk menginap beberapa malam di kediaman si pemuda tersebut. Si pemuda pun mengizinkan. Dan mulai saat itu Mu'adz mengamati setiap amalan pemuda tersebut.


Malam pertama, ketika Mu'adz bangun untuk tahajud, pemuda tersebut masih terlelap hingga datang waktu shubuh.
Ba'da shubuh, mereka bertilawah. Diamatinya bacaan pemuda tersebut yang masih terbata-bata, dan tidak begitu fasih.
Ketika masuk waktu dhuha, Mu'adz bergegas menunaikan shalat dhuha, sementara pemuda itu tidak.


Keesokkannya, Mu'adz kembali mengamati amalan pemuda tersebut.
Malam tanpa tahajjud, bacaan tilawah terbata-bata dan tidak begitu fasih, serta di pagi harinya tidak shalat dhuha.


Begitu pun di hari ketiga, amalan pemuda itu masih tetap sama.
Bahkan di hari itu Mu'adz shaum sunnah, sedangkan pemuda itu tidak shaum sunnah.

Mu'adz pun semakin heran dengan ucapan Rasulullah SAW.
Tidak ada yang istimewa dari amalan pemuda itu,
tetapi Beliau SAW menyebutnya sebagai pemuda ahli surga.
Hingga Mu'adz pun langsung mengungkapkan keheranannya pada pemuda itu.


"Wahai Saudaraku, sesungguhnya Rasulullah SAW menyebut-nyebut engkau sebagai pemuda ahli surga.
Tetapi setelah aku amati, tidak ada amalan istimewa yang engkau amalkan.
Engkau tidak tahajjud, bacaanmu pun tidak begitu fasih, pagi hari pun kau lalui tanpa shalat dhuha, bahkan shaum sunnah pun tidak.
Lalu amal apa yang engkau miliki sehingga Rasul SAW menyebutmu sebagai ahli surga?"


"Saudaraku, aku memang belum mampu tahajjud.
Bacaanku pun tidak fasih. Aku juga belum mampu shalat dhuha.
Dan aku pun belum mampu untuk shaum sunnah.
Tetapi ketahuilah, sudah beberapa minggu ini aku berusaha untuk menjaga tiga amalan yang baru mampu aku amalkan."


"Amalan apakah itu?"


"Pertama, aku berusaha untuk tidak menyakiti orang lain.
Sekecil apapun, aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang lain.
Baik itu kepada ibu bapakku, istri dan anak-anakku, kerabatku, tetanggaku, dan semua orang yang hidup di sekelilingku.
Aku tak ingin mereka tersakiti atau bahkan tersinggung oleh ucapan dan perbuatanku."


"Subhanallah...kemudian apa?"


"Yang kedua, aku berusaha untuk tidak marah dan memaafkan.
Karena yang aku tahu bahwa Rasullullah tidak suka marah dan mudah memaafkan."


"Subhanallah...lalu kemudian?"


"Dan yang terakhir, aku berusaha untuk menjaga tali shilaturrahim.
Menjalin hubungan baik dengan siapapun.
Dan menyambungkan kembali tali shilaturrahim yang terputus."


"Demi Allah...engkau benar-benar ahli surga.
Ketiga amalan yang engkau sebut itulah amalan yang paling sulit aku amalkan."


Wallahu a'lam bi shawwab.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Kamis, 12 Juli 2012

MALU BAGIAN DARI IMAN

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 50)

Imran bin Hushain radhiallahu anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Sifat malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا وَكَانَ إِذَا كَرِهَ شَيْئًا عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang sangat pemalu, lebih pemalu dari gadis pingitan. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, maka kami dapat mengetahuinya di wajah beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 6119 dan Muslim no. 2320)

Abu Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara ucapan yang diperoleh manusia dari kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari no. 6120)

Penjelasan ringkas:

Malu adalah suatu akhlak terpuji yang mendorong seseorang untuk meninggalkan suatu amalan yang mencoreng jiwanya, karena akhlak ini bisa mendorong dia untuk berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Dia merupakan hijab yang bersifat umum yang diperintahkan kepada setiap muslim baik dia laki-laki maupun wanita. Karenanya, terkhusus bagi kaum wanita, mereka diwajibkan untuk mengenakan dua jenis hijab: Hijab umum yaitu rasa malu dan hijab khusus yang berupa pakaian. Wanita mana saja yang berhijab dengan hijab khusus tapi menanggalkan hijab umumnya, maka pada hakikatnya dia telah menampakkan perhiasannya dan menanggalkan hijabnya yang sebenarnya.

Karenanya, hijab umum tidak kalah pentingnya dengan hijab khusus.

Rasa malu merupakan bagian dari keimanan bahkan dia merupakan salah satu indikator tinggi rendahnya keimanan seorang muslim. Karenanya, manusia yang paling beriman -yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam- adalah manusia yang paling pemalu, bahkan melebihi malunya para wanita yang dalam pingitan.

Intinya, malu tidaklah menghasilkan kecuali kebaikan dan dia tidaklah datang kecuali dengan membawa kebaikan pula. Karenanya wasiat malu ini merupakan wasiat dari para anbiya` sejak dari zaman ke zaman kepada umatnya, agar mereka bisa menjaga sifat malu mereka, karena hal itu akan menjaga kehormatan mereka di dunia dan jasad mereka di akhirat dari api neraka.

Di antara bentuk malu yang paling utama adalah malu kepada Allah, seperti malu jika Allah Ta’ala melihatnya ketika dia sedang berbuat maksiat atau malu kepada-Nya untuk menampakkan auratnya walaupun dia sedang sendirian. Termasuk malu ibadah adalah malunya seorang wanita dari menampakkan perhiasannya kepada siapa yang dia dilarang untuk menampakkannya.

KISAH NYATA USTAD YUSUF MANSUR

Di suatu perjalanan dari Sukabumi menuju Jakarta, 3 bulan yang lalu, sebelum bulan Ramadhan.


Saat tertidur di perjalanan, terbangunlah Ustad Yusuf Mansur (dibangunkan Allah SWT) dengan rasa kepingin pipis. Tidak jauh di depan ada sebuah SPBU, diputuskanlah untuk buang air kecil di SPBU tersebut.

Setelah mobil di parker dan turun dari mobil, terlihat berlari tergopoh-gopoh seorang satpam SPBU menghampirinya.

“Assalammualaikum pak ustad”, salam si satpam.

“Waalaikumsalam”, ustad menjawab.

“Begini pak Ustad saya ingin cerita alias ngobrol-ngobrol dengan pak Ustad”, sambar si satpam. “Oh ya pak nanti ya setelah saya buang air kecil, tunggu dulu aja di sini sebentar”, kata Ustad Yusuf Mansur sembari dia berjalan menuju toilet. Akan tetapi, si satpam bukannya menunggu malahan dia mengikuti di belakang Ustad, si Ustad pun mengulangi perkataannya.

“Pak tunggu aja sebentar ga lama ko”.

Si satpam pun nyengir sembari berkata, “saya mau shalat ashar dulu pak”. Ustad melihat jam tangannya yang menunjuk jam 16.55.

”Baru mau shalat ashar? Ya sudah cepet waktu ashar bentar lagi habis”. “Ya pak, waktu tugas saya baru selesai jadi baru sempet shalat”, jawab si satpam.

Di dalam toilet setelah selesai buang air kecil Ustad Yusuf merenenung, “Tadi tertidur terus kebangun karena pingin pipis, pas ada SPBU, terus mampir, terus ketemu si satpam. Pasti Allah SWT sudah menjodohkan saya dengan si satpam itu tadi. Ya sudah akan saya dengar dia mau cerita apa.”

Ustad Yusuf Mansur diajak ngobrol di kantin SPBU.

“Begini pak Ustad saya udah bosen kerja di sini, saya ga betah”, kata si satpam

“Lho ga betah? Udah berapa lama kerja di sini?”, Tanya Ustad

“Udah 7 tahun pak”, jawab si satpam

“Nah itu betah namanya, kerja udah 7 tahun”, kata ustad lagi
“Bukan gitu pak, habis ga ada kerjaan lain pak.”

“Terus kenapa bisa ga betah?”

“Gajinya kecil pak ustad.”

“Emang berapa gaji?”

“Gaji perbulan saya 1,7 jt.”

“Alhamdulillah, segitu kurang pak? Bapak udah punya istri dan anak? pasti ada yang salah dengan bapak”, sambar Ustad Yusuf Mansur.

Si satpampun nyengir kuda, “hehe, saya ambil motor pak dan saya punya istri dan seorang anak.”

“Ya benar tebakan saya, emang uang cicilannya berapa per bulan?”

“925.000 per bulan pak”. (Pantes aja gaji kaga cukup, itu namanya besar pasak dari pada tiang)

“Saya pingin hidup saya berubah pak Ustad ga gini-gini aja”, lanjut si satpam.

“Ada 2 syarat kalau anda pingin berubah. Yang pertama benerin dulu tuh shalat bapak, bagaimana mau berubah kalo shalat aja telat. Solatlah tepat pada waktunya, begitu suara adzan terdengar maka berhentilah dari semua aktivitas, bergegas ambil wudhu dan kerjakaan shalat.”

Shalat ashar kurang lebih jam 15.00, tapi Anda mengerjakan pukul 17.00, berarti bapak telat 2 jam. Sehari 5 waktu shalat, 2 x 5 = 10 jam, sebulan 10 x 30 = 300 jam (12,5 hari), setahun 12,5 x 12 = 150 hari (5 bln), masa kerja 7 x 5 = 35 bln (3 th). Itu baru di kali waktu kerja bapak 7 thn di SPBU, kalo di kali umur bapak sesudah masa baligh sampe sekarang? Udah habis waktu bapak sia-siakan, percepatan waktu bapak jelas kalah dengan teman-teman bapak, sodara-sodara bapak yang menunaikan ibadah solat tepat pada waktunya. Yang lain udah naik pesawat, bapak masih naik sepeda aja. Yang lain udah hidup enak bapak masih gini-gini aja.”, papar Ustad Yusuf Mansur

Sambil manthuk-manthuk si satpam bertanya lagi, “Syarat yang ke 2 apa pak Ustad?”

“Yang ke 2 berinfak dan bersedekahlah kamu, sisihkanlah dari penghasilan bapak.”

Si satpam pun nyamber, “OK pak saya mau benerin shalat saya, tapi untuk syarat yang ke 2 saya ga sanggup pak Ustad, gimana mau infak dan sedekah? Penghasilan saya aja pas-pasan bahkan kurang pak Ustad.”

Sambil geleng-geleng pak Ustad berkata, “Semua makhluk yang ada di jagat raya ini sudah di atur rezekinya masing-masing oleh Allah SWT, hewan-hewan dan tumbuhan tak terkecuali. Jangankan orang yang bekerja, pengangguran aja sudah dibagi rezekinya, apalagi yang bekerja, saya mau nanya, mana ada sekarang pengangguran yang tidak makan sehari-harinya? Pasti makan, kalo ada yang tidak atau kurang makan, silahkan datang ke rumah saya untuk makan. Namanya syarat berarti wajib, mau berubah nasibnya ga?

“Mau pak ustad, tapi berapa sedekahnya?”

“Sebulan gaji deh.”

“Sebulan gaji? terus makan keluarga saya?”

“Gini aja bapak bilang ke atasan, bon dulu uang gaji bulan depan untuk infak dan sedekah”. Si satpam terbengong-bengong, pertentangan batin sangatlah kuat antara ikhlas dan tidak, pecahlah itu perang baratayudha di dalam hatinya.

Dan akhirnya, sambil menghela nafas panjang si satpam berkata, “Baiklah pak Ustad 2 syarat tadi akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, terima kasih pak Ustad saya udah mengganggu waktu Ustad.

“Alhamdulillah, ngga apa-apa, lakukanlah syarat tadi dengan semata-mata mengharap ridho Allah SWT.”

Berpisahlah si satpam dengan Ustad Yusuf Mansur.

Malam harinya si satpam gendu-gendu rasa dengan istrinya, apa-apa yang sudah di obrolin dengan Ustad Yusuf. Alhamdulillah sang istri pun mendukung niatan dari suaminya dengan penuh hati.
Kemudian, pagi harinya si satpam menghadap kepada komandannya,

“Ndan, saya mau ngebon uang gaji saya bulan depan, boleh ga ndan?”

“Boleh aja, tapi alasannya buat apa?” Tanya balik si komandan.
Si satpam pun terdiam, iya iya buat apa? Masa alasan ngebon untuk infak dan sedekah, kan ga lucu.

“Heh di Tanya ko malah diam!” komandan menyentak.

“Ya ndan kemarin saya ketemu Ustad Yusuf Mansur, syarat untuk merubah nasib saya salah satunya bersedekaoh, jadi saya ngebon mau buat sedekah ndan”, jawabnya dengan lirih dan aga malu-malu.

Si komandannya ketawa…

“Hahaha masa kamu kasbon buat sedekah? Yang bener aja? tapi OK lah, nanti ya saya Tanya boz besar dulu, kan dia yang meng-ACC.”

Si komandan pun langsung bergegas menghadap boz untuk mengutarakan hajat si satpam anak buahnya.

“Pagi boz, gini salah satu satpam anak buah saya, mau ngebon uang gajinya bulan depan, di ACC ga boz?”

“Buat apaan?”

“Katanya sih mau di gunakan untuk sedekah bos.”

“Mau buat sedekah?” Sambil mantuk-mantuk dan cengar-cengir si bos menyambar lagi,” aneh banget, ya sudah, bilang ama dia boleh, akan saya kasih dia bon gaji bulan depan, suruh ke sini dia.”
Si satpam masuk ruangan bos nya.

“Katanya kamu mau kasbon gaji bulan depan dan uangnya mau buat sedekah?”

“Iya boss, saya mau merobah nasib.”

“Merobah gimana?”

Si satpam pun menjelaskan ke bos nya, kalo mau berubah nasib harus sedekah. Dan si bos pun percaya ga percaya.

Singkat cerita si satpam udah mendapatkan uangnya dan telah menghabiskannya untuk berinfak dan sedekah bagi sodara-sodara dan tetangganya yang kurang mampu.

Hari-hari pun berlalu, sampai tibalah di bulan yang baru. Alhamdulillah semua teman-temannya pada gajian, sendiri-sendiri ga gajian, karena bulan lalu udah di bon. Tapi hari demi hari berlalu, seorang teman satpamnya bertanya-tanya apakah si satpam itu tadi hidupnya serba kekurangan atau tidak, temannya pun melakukan survey, oh ternyata si satpam telah menjual motornya, pantes lempeng aja dia. Si bos pun terus bertanya-tanya sambil menunggu si satpam kenapa ga datang-datang lagi, lempeng amat tu bocah ya, merasa penasaran si bos pun memanggil si satpam untuk menghadapnya di kantin.

“Gimana mau ngebon lagi ga untuk bulan depan, kan uang bulan ini udah ga ada?” tantang si bos.

“Alhamdulilah ga pak bos.”

Tiba-tiba temennya nyeletuk dari belakang, “dia abis jual motornya bos.”

“Ooh abis jual motor, pantes ka ga ngebon lagi.”

“Ga bos saya jual motor ga buat saya dan keluarga makan bos, tetapi saya jual untuk menambahi sodakoh saya!” Elak si satpam
Tambah terbengong-bengong si bos dan penasaran,

“Gini bos saya ceritain, selepas saya bersedekah hari-hari terakhir di bulan lalu saya sempet terbesit di hati rasa was-was dan gundah. Mau makan apa saya dan keluarga saya bulan depan. Eh di awal bulan kemaren Alhamdulillah nama istri saya nyangkut di surat warisan keluarga di kampung, di situ tertera angka 17 jt untuk istri saya”.

Si bos pun nyamber lagi. ”lah kenapa kamu jual itu motor?”

“Saya malu sama Ustad Yusuf Mansur, seandainya pada saat itu saya jual motor untuk sedekah pasti Allah SWT akan membalasnya dengan lebih besar lagi. Alhamdulillah sekarang saya dan istri punya warung sembako di rumah sebagai usaha sampingan, semoga dengan ini nasib saya sedikit-sedikit akan berubah menjadi baik dan lebih mulia di mata Allah SWT.”

“Aamiin.”

Semoga dari cerita nyata ini dapat memotivasi teman-teman, bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mencontoh si satpam tadi. Ada 2 syarat jika anda sekalian ingin merubah nasib anda di muka bumi ini dan mulia di mata Allah SWT:

1. Sholat tepat waktu
2. Berinfak dan bersedekahlah dalam keadaan lapang maupun sempit dengan ikhlas

Kedua syarat tersebut dilakukan dengan semata-mata untuk mendapat ridho Allah SWT.

(Narasumber: Ustad. Yusuf Mansur)

ASA dan IKHLAS

Di ufuk timur, mentari menguning pertanda pagi kan tiba. Insan yang terlelap semalaman mulai terbangun satu demi satu untuk menggapai asa hari itu. Sepoi-sepoi angin di pagi hari terasa menyegarkan seluruh jiwa dan raga. Andai tiap insan menyadari akan nikmat pagi hari, niscara dia akan senantiasa bersyukur.


Seorang pria berumur sekitar empat puluhan segera bangun dan menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid. Dengan penuh khidmat, dia mengikuti sang imam untuk melaksanakan sholat. Dan sesudah sholat dan do’a, dia pun pulang bersama teman-temannya dari masjid.

Setibanya di rumah, sekental kopi panas telah tersedia di meja menemani sepiring pisang goreng yang dibeli di pasar oleh istrinya. Ketika hidung menghirup aroma kopi, serasa hidup ini sungguh nikmat untuk disyukuri. SubhanAllah.

Tak lama setelah menghabiskan secangkir kopi dan sepotong pisang goreng, aktifitas pun segera dimulai.

Bismillah… doa yang senantiasa dia ucapkan ketika akan melaksanakan pekerjaan apapun.

Lima tahun yang lalu, keadaan pria itu tidaklah tampak seperti saat ini. Asal tahu saja, dia adalah seorang pemabuk, penjudi dan mantan germo kelas kakap. Astaghfirullah Hal Adziim…

Lantas, apa yang bisa membuatnya berubah?

Namanya sebut saja Gunawan. Seorang pria berperawakan gagah dan dianugerahi wajah yang cukup tampan. Tak salah bila banyak wanita yang tergila-gila dengannya. Hingga akhirnya, dia pun menemukan seorang wanita yang pantas untuk dinikahi.

Namun, Gunawan bukanlah tipe pria setia dan bahkan ketika putri ketiganya lahir, dengan tanpa mempedulikan perasaan istrinya, dia membawa pelacur-pelacur ke rumahnya. Maklum, waktu itu dia sibuk di bisnis pelacuran.

Sekuat apapun hati wanita, melihat suaminya membawa perempuan lain kerumah pasti tidaklah kuat. Inilah yang mengakibatkan istrinya terserang penyakit dag dig dug der alias jantungan. Dan sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit, namun suaminya tidak mempedulikan keadaan istrinya.

Ada satu hal yang patut dicontoh dari sang istri, meski sakit jiwa dan raganya, dengan setia dia tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Dari secangkir kopi dan sepiring pisang goreng di pagi hari senantiasa tampak di meja.

“Pak, mbokya kalau bawa perempuan jangan di bawa kerumah. Bila bapak mau menikahi perempuan itu, silahkan saja. Paling tidak, cukup dengan menjaga hati saya.”

“Ah,,, kamu… tau apa dengan urusanku. Mereka itu hanya anak buahku, ga minat aku menikahi mereka!!!”

Sudah sering peringatan demi peringatan sang istri yang tak digubris sama sekali oleh Gunawan. Namun, hal itu tidaklah membuat istrinya menyerah begitu saja. Malam demi malam, dari Shalat Hajat dan Tahajud selalu dilaksanakan dengan penuh kepasrahan pada Illahi. Berdo’a agar suaminya cepat sadar dan menjadi suami yang baik bagi keluarganya.

Sudah seringkali, saudara Gunawan mengingatkan untuk segera meninggalkan pekerjaannya sebagai Germo. Begitu pula saudara dari sang istri, menasehati saudaranya itu segera meninggalkan suaminya. Namun jawaban sederhana itu seakan selalu berkidung bila ditanya.

“Bila ikhlas hati kita, asa akan selalu hadir di dalam jiwa. Aku ingin mencapai surga dengan suamiku, InsyaAllah.”

Hingga pada akhirnya, Gunawan masuk penjara, penyebabnya adalah Narkoba. Padahal, saat itu hanya Gunawan lah yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Lantas, bagaimana sikap istrinya?

Dengan penuh kesabaran dan cinta, istrinya selalu menyambangi suaminya di penjara. Membawakan makanan, rokok atau apa saja yang disukai suaminya. Gunawan heran, darimana istrinya bisa mendapatkan uang? Dan, mengapa hingga dia masuk penjara, istrinya tetap setia dengannya? Gunawan sangat bingung dengan situasi saat itu.

“Yan, bagaimana kamu bisa mendapatkan uang? Bukankah aku sudah berhenti menafkahi kamu?”

“Bapak sabar saja ya, InsyaAllah uang yang aku dapat ini halal.”

“Tapi bolehkah aku tahu, darimana uang itu?”, tanya Gunawan.”

“Sejak kita menikah, aku selalu menabung dari jerih payahku sebagai penjual baju-baju muslim dan sajadah. Bapak tenang saja.”

Sepeninggal kunjungan istrinya, Gunawan tampak melamun. Selama ini dia sudah menyakiti hati istri dan anak-anaknya. Namun tak satu pun sikap mereka memusuhinya. Gunawan menangis, menyesali akan perbuatannya selama ini.

Sejak itu, sikap Gunawan berubah drastis 180 derajat. Sholat mulai dilaksanakan, puasa sunnah hingga sholat malam pun selalu dikerjakan tanpa absen sama sekali.

- Tahukah kalian, dunia ini adalah hiasan dan perhiasan yang paling indah & berharga adalah istri Shalihah. (H.R. Muslim)

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya...

ANTARA KASIH DAN SAYANG



Sayang.."
Dahulu saat kasih kecil ?
butuh beLaian lembut mnismu
tapi engkau tinggaLkan kasih
dalam gundukan tanah bernisan !

Sayang.."
DLam perjalanan mLangkah remaja
tatkala hidup penuh pancaroba
Dia yang kupanggil bapa'
kelmarin ikut menyusulmu jua !

Sayang.."
Kerana jodoh kita sudah tiada
aku redha aku pasrah
kerana itu sudah takdir Tuhan !
kau semua tinggalkan kami..
membesar sendirian bersama saudari
tapi kami terima apa adanya
kami redha kami pasrah
kerana ini ketentuan Yang Maha Pemurah !

Sayang.."
Sekujur jasaD tanpa nyawa
diusung dimandikan mereka
engkau dibalut kain putih dan diikat
dimasukkan dalam keranda
di bawa ke masjid disembahyangkan
di usung kekubur tuk dikebumikan
kini kau disana hnya berteman
dari apa yang telah engkau usahakan !

Sayang.."
itulah janji Tuhan !
semua orang akan pulang
sungguh hidup mati itu benar..
alam kubur itu benar..
persoalan dalam kubur jua benar..
pertemuan dua malaikat itu jua benar..
bertemu Allah pun benar !

Sayang.."
walau kau telah tiada
tpi rasa ksih-sayank ini takkan sirna
kini kalian telah kembali
semoga Allah selalu merahmati
menempatkan brsama salihin yang diredhai !
kasih disini, akn sLalu mndo'akan kaLian..

ANTARA CINTA DAN DOA



Ya Rahman.."
Jika Cinta Adalah Suatu Pengorbanan
Tumbuhkanlah Niat Semua Pengorbananku
Semata-mata Hanya Tulus Untuk-Mu
Agar Aku Ikhlas Menerima Apapun Keputusan-Mu
Ya Rahhim.."
Jika Sayang Adalah Sesuatu Yang Mempesona
Ikatlah Aku Dengan Pesona-Mu
Agar Damai Senantiasa Selalu Aku Rasakan
Ketika Terucap Syukurku Atas Nikmat Dari-Mu
Ya Robbi.."
Berikanlah Alas Kaki Buat Hamba-Mu Ini
Agar Jalan Yang Terlewati Terasa Begitu Nikmat
Meski Ada Batu Runcing Dan Duri Yang Mencegat
Ya Ilahi
Hamba Sadar Semua Ini Milik-Mu
Jika Suatu Saat Engkau Kehendaki
PastiLah Akan Kembali Jua Pada-Mu
Hamba Pasrahkan Hidupku Kepada-Mu....!!!

Tuntunan Berpakaian Dan Berhijab

Wahai muslimah!
Sesungguhnya hijab menjagamu dari pandangan yang beracun. Pandangan yang berasal dari penyakit hati dan penyakit kemanusiaan. Hijab memutuskan darimu ketamakan yang berapi-api.

A. Sifat Pakaian yang Disyariatkan bagi Wanita Muslimah

1. Diwajibkan pakaian wanita muslimah itu menutupi seluruh badannya dari (pandangan) laki-laki yang bukan mahramnya. Dan janganlah terbuka untuk mahram-mahramnya kecuali yang telah terbiasa terbuka seperti wajah, kedua telapak tangan dan kedua kakinya.

2. Agar pakaian itu menutupi apa yang ada di sebaliknya (yakni tubuhnya), janganlah terlalu tipis (transparan), sehingga dapat terlihat bentuk tubuhnya.

3.Tidaklah pakaian itu sempit yang mempertontonkan bentuk anggota badannya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim dari Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bahwasanya beliau bersabda:
"Dua kelompok dari penduduk neraka yang aku belum melihatnya, (kelompok pertama) yaitu wanita yang berpakaian (pada hakekatnya) ia telanjang, merayu-¬rayu dan menggoda, kepala mereka seperti punuk onta (melenggak-lenggok, membesarkan konde), mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. Dan (kelompok kedua) yaitu laki-laki yang bersamanya cemeti seperti ekor sapi yang dengannya manusia saling rnemukul-mukul sesama hamba Allah. "(HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam Majmu' Al-Fatawa (22/146) dalam menafsirkan sabda Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam:
"Bahwa perempuan itu memakai pakaian yang tidak menutupinya. Dia berpakaian tapi sebenarnya telanjang. Seperti wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga menggambarkan postur tubuh (kewanitaan)-nya atau pakaian yang sempit yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, seperti pinggul, lengan dan yang sejenisnya. Akan tetapi, pakaian wanita ialah apa yang menutupi tubuhnya, tidak memperlihatkan bentuk tubuh, serta kerangka anggota badannya karena bentuknya yang tebal dan lebar."

4.Pakaian wanita itu tidak menyerupai pakaian laki-laki.
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah melaknat wanita-wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita. Sedangkan untuk membedakan wanita dengan laki-laki dalam hal berpakaian adalah pakaian yang dipakai dinilai dari karakter bentuk dan sifat menurut ketentuan adat istiadat setiap masyarakat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam Majmu'Al-Fatawa (22/148-149/155):
"Maka (hal) yang membedakan antara pakaian laki-¬laki dan pakaian perempuan dikembalikan pada pakaian yang sesuai bagi laki-laki dan perempuan, yaitu pakaian yang cocok sesuai dengan apa yang diperintahkan untuk lak-¬laki dan perempuan. Para wanita diperintahkan untuk menutup dan menghalangi tanpa ada rasa tabarruj (mempertontonkan) dan memperlihatkan. Untuk itu tidak dianjurkan bagi wanita mengangkat suara di dalam adzan, ¬(membaca) talbiyah, (berdzikir ketika) naik ke bukit Shafa dan Marwa dan tidaklah telanjang di dalam Ihram seperti ¬laki-laki. Karena laki-laki diperintahkan untuk membuka kepalanya dan tidak memakai pakaian yang melampaui batas (dilarang) yakni yang dibuat sesuai anggota badannya, tidak memakai baju, celana panjang dan kaos kaki."

Selanjutnya Syaikhul Islam mengatakan:
"Dan adapun wanita, sesungguhnya tidak dilarang sesuatupun dari pakaian karena ia diperintahkan untuk menutupi dan menghijabi (membalut) dan tidak dianjurkan kebalikannya. Akan tetapi dilarang memakai kerudung ¬dan memakai sarung tangan, karena keduanya merupakan_ pakaian yang terbuat sesuai dengan bentuk tubuh dan tidak ada kebutuhan bagi wanita padanya." Kemudian beliau menyebutkan, bahwa wanita itu menutup wajahnya tanpa keduanya dari laki-laki sampai beliau mengatakan di akhir: "Maka jelas, antara pakaian laki-laki dan perempuan itu sudah seharusnya berbeda. Yakni untuk membedakan laki-laki dari wanita. Pakaian wanita itu haruslah istitar (menutupi auratnya) dan istijab (menghalangi dari pandangan yang bukan mahramnya -pent.). Sebagaimana yang dimaksud dhahir " dari bab ini."(11)

Kemudian beliau menjelaskan, bahwa apabila pakaian itu lebih pantas dipakai oleh laki-laki sebagaimana umumnya, maka dilarang bagi wanita. Hingga beliau mengatakan: "Manakala pakaian itu bersifat qillatul istitar (hanya sekedar menutupi aurat -pent.) dan musyabahah (pakaian itu layak dipakai oleh laki-laki dan perempuan - pent.), maka dilarang pemakaiannya dari dua bentuk (baik laki-laki maupun perempuan -pent.). Allahu a'lam. "

5.Pakaian wanita tidaklah terhiasi oleh perhiasan yang menarik perhatian (orang lain) ketika keluar rumah, agar tidak termasuk golongan wanita-wanita yang bertabaruj (mempertontonkan) pada perhiasan.

Berhijab

Bahwa seorang wanita yang menutupi badannya dari (pandangan) laki-laki yang bukan mahramnya disebut berhijab.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
"Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, putra-putra saudara perempuan mereka. " (An-Nur: 31)

Dalam firman-Nya yang lain:
"Dan apabila kamu ada sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab). " (Al-Ahzab: 53)

Dan yang dimaksud dengan hijab (dari ayat di atas) adalah sesuatu yang menutupi wanita termasuk di dalamnya dinding, pintu atau pakaian.
Sedangkan kata-kata dalam ayat tersebut walaupun diperuntukkan kepada istri-istri Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam, namun hukumnya adalah umum untuk semua wanita mukminah.

Karena `illat (landasan)-nya adalah berkaitan dengan firman ¬Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
"Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. " (Al-Ahzab: 53)

Dan `illat (landasan) ini adalah umum. Maka keumuman `illat menunjukkan bahwa hukum tersebut berlaku untuk umum. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala
yang lain:
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ". (Al-Ahzab: 59)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam majmu'Al-Fatawa (22/110-111):
"Jilbab adalah kain penutup, sebagaimana Ibnu Mas'ud dan yang lainnya menamakan dengan sebutan rida’ (cadar) dan izar (sarung) sebagaimana umum menyebutnya, yakni kain sarung yang besar sebagai penutup kepala dan seluruh badan wanita. Diriwayatkan dari Abu Ubaidah dan yang lainnya, bahwa wanita itu mengulurkan jilbab dari atas kepalanya sampai tidak terlihat (raut mukanya), kecuali matanya. Termasuk sejenis hijab adalah niqab (sarung kepala). Dan dalil-dalil sunnah nabawiyyah
tentang kewajiban seorang wanita menutupi wajah dari selain mahramnya."(12)

Dan dalil-dalil tentang kewajiban wanita untuk menutup wajah dari selain mahramnya menurut Al-Qur`an dan As Sunnah sangatlah banyak. Maka saya sarankan kepada anda wahai muslimah, (bacalah -pent.) mengenai hal tersebut di dalam Risalah Hijab dan Pakaian di dalam Shalat karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Risalah Hijab karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Risalatu Ash-Sharim Al Masyhur `ala Al-Maftunin bi As-Sufur karya Syaikh Hamud bin Abdullah At-Tuwaijiri dan Risalah Hijab karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin. Semua risalah tersebut telah menjabarkan tentang permasalahan hijab beserta hal-hal yang berkaitan dengannya.

Ketahuilah wahai muslimah!
Bahwa ulama-ulama yang membolehkan kamu membuka wajahmu dengan kata-kata yang menggiurkan (rayuan-rayuai gombal) sepertinya dapat menghindarkanmu dari fitnah. Padaha fitnah tidaklah dapat dihindari, khususnya pada zaman sekarang ini. Dimana sedikit sekali laki-laki dan perempuan yang menyerukan larangan agama. Sedikit sekali rasa malunya. Bahkan banyak sekali orang-orang yang mengumbar fitnah. Kemudian sangatlah terhina wanita yang menjadikan macam-macam perhiasan yang mengundang fitnah berada di wajahnya. Berhati-hatilah dari hal itu.

Wahai muslimah! Pakailah dan biasakanlah berhijab. Karena hijab dapat menjagamu dari fitnah dengan seizin Allah. Tidak ada seorang ulama -baik dahulu maupun sekarang- yang menyetujui (pendapat) para pengumbar fitnah. Dimana mereka (para wanita) terlibat di dalamnya.

Sebagian wanita muslimah ada yang berpura-pura dalam berhijab. Yakni manakala berada dalam masyarakat yang menerapkan hijab, merekapun memakainya. Dan ketika berada dalam masyarakat yang tidak menerapkan hijab, merekapun melepaskan hijabnya.

Sementara ada sebagian lainnya yang memakai hijab hanya ketika berada di tempat-tempat umum dan ketika memasuki tempat pemiagaan, rumah sakit, tempat pembuat perhiasan emas ataupun salah satu dari penjahit pakaian wanita, maka ia pun membuka wajah dan kedua lengannya, seakan-akan ia berada di samping suaminya atau salah satu mahramnya! Maka takutlah kamu kepada Allah, hai orang-orang yang melakukan hal tersebut!

Telah kami saksikan pula, beberapa wanita yang berada di dalam pesawat (yakni pesawat yang datang dari luar Arab Saudi), rnereka tidak memakai hijab, kecuali ketika pesawat mendarat di salah satu bandara di negara ini. Seolah-olah hijab itu berasal dari adat kebiasaan (bangsa Arab) dan bukan dari pokok-pokok ajaran agama.

Wahai muslimah!

Sesungguhnya hijab menjagamu dari pandangan yang beracun. Pandangan yang berasal dari penyakit hati dan penyakit kemanusiaan. Hijab memutuskan darimu ketamakan yang berapi-api.
Maka pakailah hijab. Berpeganglah pada hijab. Dan janganlah kamu tergoda oleh pengumbar fitnah yang bertujuan memerangi hijab atau mengecilkan dari bentuknya. Sebab ia ingin menjadikanmu jahat. Sebagaimana firman Allah:
Sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh jauhnya (dari kebenaran). " (An-Nisaa': 27)

Muhasabah Diri

Tuhanku,
Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luas
Aku hanyalah setetes embun di lautanMU yang meluap hingga ke seluruh samudra
Aku hanya sepotong rumput di padangMU yang memenuhi bumi
Aku hanya sebutir kerikil di gunung MU yang menjulang menyapa langit
Aku hanya seonggok bintang kecil yang reduo di samudra langit Mu yang tanpa batas

Tuhanku
Hamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapanMU
Tiada Engkau sedikitpun memerlukan akan tetapi …
hamba terus menggantungkan segunung harapan pada MU

Tuhanku…………..baktiku tiada arti, ibadahku hanya sepercik air
Bagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api neraka MU
Betapa sadar diri begitu hina dihadapanMU
Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhlukMU
Diri yang tangannya banyak maksiat ini,
Mulut yang banyak maksiat ini,
Mata yang banyak maksiat ini…
Hati yang telah terkotori oleh noda ini…memiliki keninginana setinggi langit
Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu yang mulia???

Tuhan…Kami semua fakir di hadapan MU tapi juga kikir dalam mengabdi kepada MU
Semua makhlukMU meminta kepada MU dan pintaku….
Ampunilah aku dan sudara-saudaraku yang telah memberi arti dalam hidupku
Sukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya

Mungkin tanpa kami sadari , kamu pernah melanggar aturanMU
Melanggar aturtan qiyadah kami,bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanah
Yang telah Tuhan percayakan kepada kami…Ampunilah kami

Pertemukan kami dalam syurga MU dalam bingkai kecintaan kepadaMU
Tuhanku….Siangku tak selalu dalam iman yang teguh
Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,
Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir pada MU
Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit
Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada Mu
Atau….dalam maksiat kepadaMU “Ya Tuhanku Tutuplah untuk kamu dengan sebaik-baiknya penutupan !!”

Dari saudara untuk saudara “Perbaiki diri Serulah Orang Lain”

Sebelum Engkau Halal BagiKu


  YAA ROBBI..."
  Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,berfikir sebelum bertindak, santun dalam berbicara, tenang ketika gundah, diam ketika emosi melanda, bersabar dalam setiap ujian. Jadikanlah kami orang yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq, sebijaksana Umar bin Khattab, sedermawan Utsman bin Affan, sepintar Ali bin Abi Thalib, sesederhana Bilal, setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhum. Amiin ya Rabbal'alamin.
  Hari-Hari terakhir jadi terasa sedikit berat. Beberapa hal yang harus dikerjakan secara bersamaan datang tak terbendung. Masih sibuk di depan komputer, aku mencoba untuk menguatkan hati lewat nasyid-nasyid yang kuputar lewat media player di layar monitor yang masih setia menemaniku. Tapi kemudian aku tertegun sejenak, karena terdengar sebuah lagu yang begitu menggetarkan hatiku.
  Teringat bahwa aku begitu lemah dan tak tahu arah. Lamunanku kembali terbangun dalam kenangan-kenangan dengan orang yang beberapa bulan terakhir ini menghiasi fikirku. Seseorang yang terlihat begitu sempurna di hatiku, meski tak pernah sekalipun aku melihat dirinya dalam dunia nyata.
  Datangnya begitu tiba-tiba dan tak pernah kuduga. Dia datang dalam hari-hariku sebagai teman dunia maya. Hingga akhirnya kini dia menghilang, pergi seiring dengan berjalannya waktu.
  Sebuah perkenalan yang diawali dengan niatan yang baik. Aku ingin menjadi sahabatnya, karena bagiku sebuah ikatan persaudaraan teramatlah penting. Tapi hatiku terlalu rapuh dan lemah, tak kuasa aku menjaga segumpal darah di dalam tubuh yang hina ini. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda, rasa yang mungkin juga pernah hadir dalam hati anda.
  Sungguh walau kukeluan tuk mengungkapkan perasaanku, Namun penantianmu pada diriku jangan di salahkan, Kalau memang kau pilihkan aku.Tunggu sampai aku datang nanti. Kubawa kau pergi kesyurga abadi, Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu. Nantikanku di batas waktu.
  Malam-malamku kubangun dalam sujud yang kupenuhi dengan tangis. Ketakutanku akan hadirnya rasa itu begitu dalam. Aku mencoba menyerahkan segalanya padaNya yang menguasai setiap hati manusia. Aku meminta padaNya yang telah begitu menyayangiku yang begitu hina ini, kuminta agar hati ini dikuatkan dan agar hati ini tak lagi terjebak pada rasa yang semu. Karena aku takut rasa itu akan menjauhkanku dariNya.
  Aku mencoba tabah, berbagai hal kulakukan demi menenangkan hati ini. Kubuka musyafku, kubaca surah Ar-Rahman yang begitu indah dan menjadi pengobat lukaku selama ini. Tapi kemudian aku kembali teringat kepadanya yang tak pernah kutahu siapa. Tak kuasa menahan air mata, kembali aku berpasrah padaNya karena aku benar-benar takut.
  Dia benar-benar sosok yang sempurna di hatiku. Masih terbayang jelas bahwa dia selalu hadir dalam setiap masalah yang kuhadapi. Dia begitu sempurna bukan karena fisik ataupun kekayaannya. Tapi dia begitu terlihat sempurna karena dia selalu mencoba mendekatkan hatinya pada Rabb-nya. Orang yang semakin jarang kutemui dalam kehidupan yang ada di sekitarku.
  Tapi aku kembali pada diriku. Aku terlalu lemah untuknya, terlalu hina jika disandingkan dengannya, karena aku tak seindah mereka yang selalu dapat menjaga agama dalam setiap hela nafas. Dan aku takut jatuh cinta.
  Kemudian dia mulai pergi seiring berjalannya waktu. Aku mencoba untuk tabah dan ikhlas dalam menjalani ini semua, karena kutahu, Allah tidak akan menguji diri ini melebihi batas kemampuanku. Dan kutahu, Dia akan memberi yang terbaik untukku.
  Aku kembali tersadar dari lamunan. Segera aku beristighfar, kemudian kulirik penunjuk waktu yang terdapat di pojokan monitor. Pukul dua dini hari, saatnya aku untuk mengistirahatkan diri ! to be continue.."

TERSENYUM DALAM SENYUMAN

Melukis kasihmu,
Bagaikan mengukir diatas luasnya permadani langit . . .

Tertuang dari hati . . .
Indah menyentuh nurani,ialah sentuh kasihmu,
Wahai Bunda . . .

Sosokmu yang tenang, Tegas dan Bijak,
mengantarkan jiwa memahami nafas waktu . . .

Ia yang tak lelah mendekap luka,
Disaat tak kutemukan jiwa yg mengerti tangisku . . .
Ia yang tak lelah melangkah,
Demi setitik nikmat yang mampu kemilaukan senyumku . . .
Ia yang memahami lelahku,
mendekap jiwa dengan senyumnya,damaikan jiwa dalam kasihnya . . .
Ia yang memahami kemampuanku,
Percaya akan hadirnya bahagia ketika tiada kata menyerah hiasi Asaku . . .

Bunda . . .
Kubingkai rasaku indah ketika aku memandang senyummu,
Kuraih bahagiaku . . .
Sirnalah sepiku disaat senyummu ada disini,
Temani aku walau tak menyentuhku . . .

Mengertilah wahai hati . . .
Engkau begitu jauh,
Namun Lafasku menyentuhmu indah . . .
Seakan kurasa lambaian kasihmu menyentuh sepiku,
Hadir disini temani aku mengukir waktu . . .

Penantian waktu mengantarkan aku memahami Amanahmu,
Tersenyumlah Wahai Bundaku . . .
Langkah ini berirama namamu,
Nafas ini berlafaskan Kasihmu . . .

Ya Tuhan,
Izinkan Hamba melukis senyum Nyata untuknya . . .
Bahagiakan ia disisa nafasnya,
Yang masih engkau anugrahkan untukku . . .

Untuk Engkau yang telah tersenyum memandangku,
Bahagialah Engkau dalam dekap-Nya . . .
Untaian kasih adalah irama syurga yang menyentuh engkau,
Wahai Bundaku . . .

Disini . . .
Ananda bahagia merangkai untaian rindu untuk Senyum indahmu . . .
Disini . . .
Ananda bahagia mengenang engkau,
Muliakan tiap tetes jiwa yang mengalir indah untukku . . .
Disini . . .
Ananda Tersenyum untuk Senyummu . . .

10 Karakter Muslimah Sejati

1.Salimul Aqidah, Bersih Akidahnya dari sesuatu hal yang mendekatkan dan menjerumuskan dirinya dari lubang syirik.


2.Ibadah, Benar Ibadahnya menurut AlQur’an dan Assunnah serta terjauh dari segala Bid’ah yang dapat menyesatkannya.

3.Matinul Khuluq, Mulia Akhlaknya sehingga dapat menunjukkan sebuah kepribadian yang menawan dan dapat meyakinkan kepada semua orang bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan Lil Alamin).

4.Jismi, Kuat Fisiknya sehingga dapat mengatur segala kepentingan bagi jasmaninya yang merupakan amanah/titipan dari Alloh SWT.

5.Fikri, Luas wawasan berfikirnya sehingga dia mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi disekitarnya.

6.Qodirun ‘alal Kasbi, Mampu berusaha sehingga menjadikannya seorang yang berjiwa mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

7.Mujahidun linafsihi, Bersungguh sungguh dalam jiwanya sehingga menjadikannya seseorang yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan ataupun kejadian sehingga berdampak baik pada dirinya ataupun orang lain.

8.‘ala waqtihi, Efisien dalam memanfaatkan waktunya sehingga menjadikannya sebagai seorang yang pantang menyiakan waktu untuk melakukan kebaikan, walau sedetikpun. karena waktu yang kita gunakan selama hidup ini akan dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh SWT.

9.Munazhom Fii Su’unihi, Tertata dalam urusannya sehingga menjadikan kehidupannya teratur dalam segala hal yang menjadi tanggung jawab dan amanahnya. Dapat menyelesaikan semua masalahnya dengan baik dengan cara yang baik.

10.Naafi’un Li Ghairihi, Bermanfaat bagi orang lain, sehingga menjadikannya seseorang yang bermanfaat dan dibutuhkan. Keberadaannya akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi orang lain dan Ketiadaannya akan menjadikan kerinduan pada orang lain.

Mudah-mudahan dengan kesepuluh karakter yang dikemukakan diatas menjadikan para muslimah termotivasi untuk dapat merealisasikannya dalam dirinya Amin.

:::PEDIHNYA ADZAB NERAKA :::


~ Diatas Titian Jahannam (2) ~

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sambungan DIATAS TITIAN JAHANNAM (1)

Kemudian mereka ( yang bersujud ) mengangkat kepala, Sedang DIA telah beralih dalam bentuk yang mereka lihat pertama kali. Maka dia berfirman :
"AKU ADALAH RABBMU", Lalu mereka berkata : “ENGKAU RABB KAMI”.
Kemudian diletakkan shirat diatas jahannam.
Dan yang ada HANYA IZIN MEMINTA SYAFAAT.
Mereka (Para NABI PUN BERDOA) ,
“YA ALLAH SELAMATKANLAH SELAMATKANLAH
” Ibnu Rajab berkata “ Hadis ini jelas menerangkan bahwa setiap orang yang beribadah kepada sesuatu selain Allah, seperti golongan ahli kitab yang menyembah Al-masih dan Uzair, akan bergabung dengan Musyrikin untuk sama-sama dijerumuskan kedalam neraka sebelum shirat dibentangkan”
Hanya saja para penyembah berhala , matahari, bulan
dan golongan musyrikin lainnya akan mengikuti apa
yang dulu nya mereka sembah didunia.
Lalu merekalah yang pertamakali masuk neraka bersama sesembahan
mereka.

AlQuran sendiri telah memberi keterangan yang
semakna dengan ini dalam firman Allah :
“IA BERJALAN DIMUKA KAUMNYA PADA HARI KIAMAT LALU MEMASUKKAN MEREKA KEDALAM NERAKA.
NERAKA ITU SEBURUK-BURUK TEMPAT YANG DIDATANGI (Hud : 98)

Sedangkan orang-orang munafik akan melewati titian
itu . Mereka diberikan cahaya untuk menerangi jalan mereka.
Kemudian dipadamkan cahaya mereka agar mereka
berjatuhan kedalam tingkatan yang paling bawah dari neraka.
Kita berlindung kepada Allah.
Jabir Bin Abdullah pernah berkata,… “Setiap Manusia
Baik Munafik maupun Mukmin Akan Diberi Cahaya
kemudian Mereka Mengikutinya.
Diatas Jembatan
Jahannam ada cakar-cakar (besi-besi pengait) dan duri-
duri yang menyambar siapapun orang yang dikehendaki Allah.
Kemudian dipadamkan Cahaya Orang-Orang munafik. Selanjutnya Selamatlah Orang-Orang Mukmin.
(HR Ahmad dlm Al-Musnad(14763) dan Muslim (191)
KEADAAN MANUSIA DIATAS SHIRATH Orang yang melewati Shirath ada empat golongan masing-masing menurut kadar keimanan dan amalnya.

Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri Bahwa Rasulullah
bersabda :”Diletakkan Shirath diantara kedua tepi
Jahannam, diatasnya ada duri-duri seperti duri As-Sa’dan (jenis tumbuhan berduri)
kemudian orang-orang melewatinya.
Ada orang yang sampai (keseberang) dan selamatlah ia. Ada yang tersambar sehingga tubuhnya tercabik, namun ia tetap selamat, tetapi adapula yang terkait lalu terhempas keneraka. (HR Ahmad dalam Al-Fath
Ar_rabbani :24/157)
1.Diantara mereka ada yang melewatinya dengan cepat
dan selamat dari titian itu. Sehingga ia tidak tersentuh
panasnya jahannam ataupun cakar-cakar shirath.
Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Mas’Ud dimana Rasulullah bersabda : “MANUSIA AKAN
MENDATANGI NERAKA , KEMUDIAN MEREKA AKAN PERGI DARI NERAKA ITU SESUAI DENGAN AMAL-AMALNYA.

GOLONGAN PERTAMA DIANTARA MEREKA SECEPAT KILAT, KEMUDIAN SEPERTI ANGIN, KEMUDIAN SEPERTI
KENCANGNYA KUDA MAKSUD NYA LARI KUDA , KEMUDIAN
SEPERTI ORANG YANG MENGENDARAI HEWANNYA,
KEMUDIAN SEPERTI LARINYA SESEORANG. KEMUDIAN SEPERTI ORANG YANG BERJALAN.
(hr Ahmad dalam Al-Fath Ar-rabbani)
2.Diantara mereka ada yang tercabik-cabik oleh cakar-
cakar shirath atau terpotong-potong dagingnya, namun
kemudian ia selamat.
“… DIKEDUA TEPI SHIRATH ADA BESI-BESI PENGAIT
LAKSANA CAKAR-CAKAR YANG TERGANTUNG (Shahih
muslim bin syarhi an-nawawi(3/25) (182)),
YANG DIPERINTAHKAN UNTUK MENYAMBAR SIAPA YANG
DIPERINTAHKAN KEPADANYA. LANTAS ADA YANG
TERCABIK-CABIK DAN TERHUYUNG-HUYUNG NAMUN
SELAMAT SAMPAI TUJUAN.
ADA PULA YANG DISAMBAR DAN DIHEMPASKAN DI NERAKA (HR MUSLIM ( 9195) DAN Al hakim (4/631) dari sahabat hudzaifah).
3. Diantara mereka ada yang tertahan diatas shirath lalu
mengalami berbagai penderitaan hebat berupa jilatan api neraka jahannam serta azab , teror lainnya yang membuat jantung seperti terlepas .
Diriwayatkan dari Sahl bin Muadz bin anas Al –Juhani dari ayahnya dari nabi yang bersabda : “BARANGSIAPA YANG MELONTARKAN KEPADA SESEORANG MUSLIM SESUATU (TUDUHAN) DENGAN MAKSUD INGIN MENCELA NYA, NISCAYA ALLAH MENAHANNYA DIATAS JEMBATAN JAHANNAM SEHINGGA IA MENARIK PERKATAANNYA”
(HR Abu Dawud 948830 dan dishahihkan Al-Albani dalam
Shahih Abu Dawud (4086)).
4. Diantara mereka ada yang dibinasakan oleh amalannya
sendiri, sehingga iapun jatuh kedalam neraka.
Kita berlindung kepada Allah.
Hal ini disebutkan dalam riwayat Abu Bakar dari nabi
yang bersabda:
“PADA HARI KIAMAT KELAK MANUSIA AKAN DILETAKKAN DIATAS SHIRATH , LALU PARA PENJAGA SISI SHIRATH MENJATUHKAN MEREKA LAKSANA BERJATUHANNYA KUPU-KUPU KEDALAM API NERAKA,
“BELIAU BERSABDA, “LALU DENGAN RAHMATNYA,
ALLAH SELAMATKAN SIAPAPUN YANG DIKEHENDAKINYA” (HR Ahmad dalam Al-Fath Ar-Rabbani 24/156, At-tabrani, Albazzar dan di shahihkan Al-Albani dalam Zhilalul jannah 9837)

Pada saat yang sangat sulit, sangat menakutkan dan
membuat jantung serasa copot ini PARA RASUL
MEMANJATKAN DOA DENGAN MENGATAKAN.
“YA ALLAH
SELAMATKANLAH, SELAMATKANLAH”,
Sebagai rasa KASIH
DAN SAYANG TERHADAP KEADAAN MANUSIA YANG
MEREKA LIHAT DIATAS SHIRATH INI….
Wallahualam … Saya memohon kepada Allah yang maha Agung , Rabb
Arsy Yang mulia , agar menyelamatkan kita dari berbagai ujian hari kiamat dan dari ujian shirath .Semoga Allah memasukkan kita ketempat yang mulia dan tidak memperlakukan kita dengan sifat yang sudah biasa menjadi sifat kita, tapi memperlakukan kita dengan cara Yang sesuai Dengan Sifat-Nya… Aamiin. Silahkan Teman-teman dikoreksi/, diperbaiki / diluruskan /ditambahi dan dilengkapi.
Jazakallahu khairan katsiro (Sumber : DR Muhammad An-Nuaim “DIATAS TITIAN
JAHANNAM” , Muhammad Tholhah Hasan , “APABILA
IMAN TETAP BERTAHAN)