Welcome to blog Angga Ardinata

Kamis, 24 Maret 2011

kopassus kebanggaan kita


Sehebat apapun sebuah satuan militer, tanpa dukungan rakyat yang sadar akan

hak-hak demokratiknya, dengan pasti akan dikalahkan oleh kekuatan demokratik

yang bersatu padu. “Jatuhnya” (minggir-nya, lebih tepat!) rejim Soeharto

dalam Revolusi Mei yang belum selesai itu, oleh mahasiswa, menjadi bukti

nyata. Demikian pula Perang Vietnam yang telah menunggang-langgangkan

pasukan Aamerika Serikat yang dikenal paling canggih baik perlatan maupun

kualitas serdadunya.

Ada baiknya kita semua mengetahui sejauh mana pasukan baret merah yang

pernah dipimpin oleh Prabowo Subianto, the golden boy, sang menantu Soeharto

ini. Paling tidak kita menjadi tahu hal-hal yang seharusnya diketahui oleh

rakyat yang telah membanting tulang meneteskan keringat membiayai sebuah

pasukan elit yang justru telah dijadikan alat untuk menindas mereka sendiri.

Motto : BERANI — BENAR — BERHASIL

Kilasan Sejarah Kopassus dibentuk oleh Kolonel E Kawilarang yang waktu menjabat

Sebagai Panglima TT III / Tentara Teritorium Siliwangi. Ia memanggil seorang

bekas tentara KNIL yang memilih menjadi WNI, ketika terjadi perang DI/TII,

namanya Mayor Ijon Jambi (orang Belanda, Nama aslinya RB Visser).

Kopassus diresmikan oleh AH Nasution pada waktu itu dan hanya 6 bulan berada

dibawah TT III Siliwangi sebelum akhirnya dimabil alih oleh AD. Baretnyapun

berwarna merah, karena memang mengambil alih konsep pasukan Belanda “roode

baret”. Mengenai warna baret ini perlu kita ketahui bersama bahwa seluruh

pasukan khusus di dunia menggunakan warna hijau, sedangkan pasukan “airborne/

lintas udara” nya berwarna merah. Tapi di Indonesia terbalik, justru pasukan

khususnya yang menggunakan baret warna merah.

Struktur Organisasi saat ini Kopassus terdiri atas 5 Grup (istilah grup hanya

dipakai oleh Special Forces dibeberapa negara didunia, sedangkan tentara pada

umumnya menggunakan istilah Batalyon, Detasemen, Brigade dan Divisi). Setiap

Grup dipimpin oleh seorang Pamen berpangkat Kolonel. Dari prajurit sampai

dengan Kolonel adalah tentara yang profesional dan terlatih terus, baik

secara fisik maupun mental. Jadi jangan dibayangkan bahwa semakin tinggi

pangkat atau tua usia seorang prajurit Kopassus itu akan jadi lamban seperti

tentara pada umumnya. Sangat sulit menemukan anggota ABRI yang pensiun di

Kopassus, karena begitu fisiknya tidak memadai, Ia akan langsung mutasi ke

Satuan lainnya.

Grup ini baru dimekarkan oleh Letjen Prabowo beberapa bulan lalu, sehubungan

dengan AGHT (Ancaman, Gangguan, Hamabatan dan Tantangan) yang ada di depan

kita di masa mendatang. Diperkirakan tidak akan ada perang dalam skala besar

tapi justru skala kecil intensitas tinggi (terorisme, penculikan dll).

Sebagai mana

layaknya Pasukan Khusus didunia, maka Kopassus dibentuk untuk menghadapi

perang dalam skala kecil tapi berintensitas tinggi, seperti terorisme.

Grup 3 berlokasi di Batujajar, Jabar (dekat Cimahi) dan merupakan

Pusdikpasus (pusat Pendidikan Kopassus). Tempat latihannya berada disekitar

Bandung sampai dengan Cilacap. Group 1 – 3 bekualifikasi PARA KOMANDO (semua

anggotanya harus

Mengikuti latihan terjun payung dasar/tempur )

Grup 4 disebut Sandhy Yudha dan berlokasi di Cijantung Jakarta, merupakan

orang pilihan dari 3 grup pertama yang dilatih kembali menjadi

berkualifikasi Intelejen Tempur, dengan tugas menghancurkan lawan digaris

belakang pertahanan lawan (penyusupan).

Mereka adalah tentara profesional yang dalam pergerakannya dalam bentuk Unit

(istilah dalam Special Forces, dalam tentara biasa disebut Regu, Peleton

atau Kompi) berjumlah sekitar 5 orang. Dalam masa damai seperti saat ini,

mereka mendapat tugas Intelejen Teritorial, misalnya mengetahui

karakteristik demografi suatu daerah, pendukung dana yang bisa dimanfaatkan,

tokoh-tokoh masyarakat, preman-preman dll.

(Sebagai informasi saja, bahwa sejak bulan Juni 1997, Kopassus mengirimkan

team kecilnya keseluruh kota-kota besar di Indonesia dengan tugas RAHASIA,

karena ABRI yang lainpun tidak mengetahui dengan pasti apa tugas mereka. Di

beberapa lokasi / Kodam, tentara lokalnya bahkan tersinggung karena

seolah-olah dianggap tidak mampu me manage daerahnya. Mereka ditarik kembali

ke Jakarta pada bulan Januari 1998).

Kehebatan lain Grup ini adalah pola perilaku dan penampilannya yang sama sekali

tidak mirip tentara . Misalnya cara bicara tidak patah-patah, rambut

panjang, tidak pernah menghormat atasan atau yang pangkatnya lebih tinggi

bila bertemu di luar Ksatrian mereka. Jadi sangat jauh dengan gaya Serse

Polisi atau Intel Kodim dll. yang kadangkala justru menunjukkan kalau

dirinya Intel. Mereka tidak ngantor setiap hari dan sangat jarang pakai

seragam, hanya pada saat tertentu saja mereka kembali ke kantor (misalnya 2

minggu sekali untuk laporan atau mendapat tugas baru). Jadi pada prinsipnya

mereka sangat aktif berkecimpung dalam kehidupan masyarakat biasa misalnya

di RT/RW, Perkumpulan Terjun Payung, Jeep Club dll. (terutama bagi mereka

yang tidak tinggal di Ksatrian). Group ini

sangat profesional dalam penyamarannya dan juga sudah mendapatkan pendidikan

Perang Kota dari Green Beret US Army. Di Timor Timur, Aceh dan Irian (3 hot

spot di Indonesia yang sering digunakan sebagai ajang latihan juga) mereka

menyusup sampai ke kampung -kampung dan membentuk basis perlawanan terhadap

GPK dari masyarakat lokal sendiri. Oleh karenanya kemampuan menggalang massa

nya sangat terlatih.

Grup 5 (atau yang dikenal sebagai Detasemen 81, karena keberhasilannya dalam

peristiwa pembajakan pesawat di Don Muang, Muangthai tahun 1981) adalah orang

pilihan dari Group 4 dan merupakan yang terbaik yang dimiliki Kopassus.

Mereka memiliki Ksatrian tersendiri di Cijantung dan terisolir.

Klasifikasinya adalah ANTI TERORIS dan akan selalu mengikuti perjalanan

kenegaraan Presiden. Pengetahuan orang bahkan ABRI sendiri tentang Grup ini

sangat minim, karena mereka sangat terisolir dan rahasia. Sebuah sumber

mengatakan bahwa mereka mengikuti pola GSG 9 Jerman (Pasukan elite polisi

Jerman, yang berhasil dalam pembebasan sandera di Kedutaan besar Jerman di

Iran). Mengingat Prabowo adalah satu-satunya Perwira Indonesia yang pernah

lulus dalam pendidikan anti teroris di GSG 9.

Namun demikian saat ini mereka sudah mulai mencampurkan pola latihannya

sehubungan dengan banyaknya perwira yang dilatih oleh Green Berets US Army

(misalnya Mayjen Syafrie Syamsudin). Peralatan yang mereka miliki sangat

canggih dan tidak ada bedanya dengan satuan elite tentara lainnya di dunia.

LATIHAN

Jadi pendidikan awal seorang Kopassus adalah mengambil kualifikasi KOMANDO

yang harus dijalani sekitar 6 bulan. Materi latihan meliputi Perang Hutan,

Buru Senyap, Survival (dilakukan di daerah Situ Lembang dilanjutkan dengan

long march ke Cilacap untuk latihan rawa laut, survival laut, pendaratan

pantai dll.

Selain itu juga mereka harus mengambil pendidikan PARA DASAR Tempur dengan

materi yang meliputi terjun malam, terjun tempur bersenjata dan diterjunkan di

Hutan (membawa senjata, ransel, payung utama dan payung cadangan).

Dalam semua latihannya mereka akan menggunakan peluru tajam, oleh karenanya

tidaklah heran bila hampir dalam setiap latihan selalu ada siswa yang

meninggal dunia karena berbagai sebab (kelelahan, kecelakaan dll).

Standard yang dipakai di Kopassus sangat amat ketat, bagi yang fisiknya

kurang mampu atau mentalnya lemah, jangan harap bisa bertahan didalam

latihan ini, atau di Satuan ini. Kesalahan sekecil appaun tidak akan

ditolerir, karena memang tugas mereka sangat berbahaya. Setiap anggota

Kopassus harus memiliki keahlian khusus seperti menjadi penerjun payung

handal (Combat Free Fall), penyelam, penembak mahir (sniper), Daki Serbu,

Komputer/perang elektrokika, perang psikologi, menguasai sedikitnya 2 bahasa

daerah bagi para tamtama dan bintara dan bahasa asing untuk para perwiranya.

Mereka diseleksi secara ketat, baik oleh Team Kes AD (Kesehatan), PSIAD

(Dinas Psikologi AD) dan Team Jas AD (Jasmani/Kesemaptaan). Proses seleksi

ini pada dasarnya berjalan terus menerus sampai dengan selesainya latihan,

seorang Pasis (Perwira Siswa) yang melakukan kesalahan pada hari terakhir

latihan, akan langsung dipecat, artinya tidak ada kompromi. Oleh

karenanyalah, LOYALITAS terhadap perintah atasan sangat penting dalam

organisasi ini.

PERLENGKAPAN

Kopassus merupakan tentara pilihan dan mereka tidak mentolerir kesalahan

dalam operasi sekecil apapun (Safety First), oleh karenanya perlengkapan

yang mereka pakai sangat jauh berbeda dengan tentara lainnya. Perlengakapan

mereka sangat canggih dan modern, misalnya saja untuk membaca peta, sudah

tidak menggunakan lagi Kompas Prisma, tapi GPS (Global Positioning System)

yang langsung berhubungan dengan Satelit; dengan hanya menekan satu tombol

saja, mereka akan mengetahui dengan tepat posisinya , jarak yang akan

ditempuh bila akan menuju ke koordinat tertentu.

Grup antiterornya menggunakan senapan H&K MP5 , yang merupakan standar

pasukan khusus terbaik di dunia seperti Green Berets, Delta Force, Navy

Seal, GSG 9

Jerman, SAS dll. Pistol yang dipakai Beretta 9 mm (.45), selain itu juga

berbagai macam kaliber lainnya seperti kaliber .22 (pistol kecil). Apabila

peralatan yang mereka pakai sudah saatnya diganti (menurut manual) maka akan

segera diganti. Hal ini sangat jauh berbeda dengan tentara lainnya yang

cenderung konvensional dan melakukan tambal sulam terhadap peralatannya.

Mereka punya peralatan terjun payung tercanggih untuk melakukan HALO (High

Altitude Low Opening) dan HAHO (High Altitude High Opening) yang memakai

masker oksigen dll. Penerjunan ini dilakukan setinggi mungkin, sekitar

10.000 feet dan kemudian dia akan melayang dan membuka payungnya serendah

mungkin guna menghindari radar lawan (agar tetap tampak seperti burung yang

melayang diudara di radar lawan).

Peralatan pendaratan pantai (memiliki LCR/Landing Craft Rubber/Perahu karet

dengan mesin yang hampir tanpa bunyi, yang digunakan untuk operasi

penyusupan dimalam hari), menyelam (dilatih seperti UDT, Underwater

Demolition Team US Navy,), team Daki Serbu ( yang baru saja menaklukkan

Himalaya dan dikenal di luar sebagai PPGAD/Persatuan Pendaki Gunung TNI AD).

Kehebatan Kopassus adalah mereka tidak segan-segan untuk meminta bantuan

pihak lain yang dianggap ekspert dibidangnya seperti PADI untuk menyelam,

AVES untuk terjun payung, Wanadri untuk naik gunung dll. yang dalam

perjalanannya kemudian akan mereka modifikasi sendiri untuk keperluan tempur

dan malahan menjadi lebih hebat.

Sebagai sebuah Satuan mereka memiliki Dinas Hub (Perhubungan) sendiri yang

sangat canggih dan memiliki sistem perhubungan portable yang mandiri dan

Satelite Mobile Phonet, Kes (Kesehatan) sendiri, Pal (Peralatan) sendiri

dengan persenjataan yang canggih, Bek (Perbekalan) sendiri, Ang (Angkutan)

sendiri, dengan mobil-mobil Hummer, mobil dipantai dll.

Bahkan mereka merencanakan untuk membeli helikopter sendiri dari Rusia

(namun gagal karena Krismon). Jadi pada prinsipnya mereka sangat mandiri,

termasuk memiliki sejumlah panser.

Kesimpulan & Keunggulan

1. 1 orang Kopassus dapat disetarakan dengan minimal 3 orang tentara biasa,

karena ybs dilatih dengan berbagai ketrampilan (komunikasi radio, menembak,

P3K dll). Di tentara biasa hal ini tidak dijumpai;

2. Kedisiplinan dan loyalitas yang tinggi terhadap tugas;

3. Biaya pelatihan bagi seorang Kopasssus sangatlah mahal;

4. Peralatan yang canggih dan tepat guna;

5. Secara umum kesejahteraan anggota Kopassus lebih baik dibandingkan

tentara pada umumnya, terutama ketika dibawah Prabowo, karena ia sangat

memperhatikan hal ini. (misalnya bila ada lelangan mobil di Bimantara dll.,

maka mobil bekas tersebut akan segera di beli oleh Kopassus untuk dijual

murah kepada anggotanya /perwira);

6. Sangat jarang bagi mereka tinggal dirumah, selalu latihan dan operasi;

7. Mereka adalah tentara profesional yang tidak pernah ragu untuk mengambil

keputusan dalam membela negaranya dari bahaya

8. Sangat amat jarang ditemukan anggota Kopassus yang bekerja menjadi SATPAM

di industri-industri, sebagaimana sering ditemui terjadi pada tentara

lainnya. Karena relatif taraf ekonomi mereka lebih terjamin sehubungan

dengan adanya YAYASAN KOBAME (Korps Baret

Merah)

9. Cara-cara mereka beroperasi sangat profesional (dalam pengertian tentara

misalnya tehnik membunuh, kontra intelejen, agitasi, propaganda, perang

psikologi, penggalangan massa, menguasai berbagai macam type senjata).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar